Sabtu, 21 Juli 2007

Aku Ingin Pulang


Aku Ingin Pulang

Badannya tinggi, rambutnya ikal, kulitnya hitam. Namanya Amir Hamzah. Itulah suamiku. Kami bertemu ketika kami sedang sama-sama kuliah di Bandung. Bang Amir begitu aku menyapanya adalah seniorku. Dia dua tahun diatasku. Setelah tamat kuliah Bang Amir mendapat pekerjaan di ibukota. Dan setelah aku lulus, Bang Amir pun melamarku setelah itupun aku tinggal bersamanya. Aku pun memilih untuk menjadi seorang ibu rumah tangga. Tak lama setelah itu aku pun mengandung dua anak kembarku yang kami beri nama Awan dan Topan. Dua orang anak laki-laki yang sangat lucu. Maka sejak itu kesibukanku semakin banyak dengan hadirnya anak kembarku. Waktuku lebih banyak kuhabiskan dengan anak-anakku. Kehidupan kami saat itu memang sangat bahagia, ditambah lagi dengan kehadiran Mentari anak perempuan kami.
Anak-anakku pun tumbuh menjadi tiga anak manis yang riang. Aku menjadi seorang istri yang sangat menikmati kehidupan ibu rumah tangga. Sementara Bang Amirku pun mulai menapaki kariernya. Namun seperti juga sebuah roda. Kehidupan terus berputar. Perusahaan tempat suamiku bekerja gulung tikar. Bang Amirku terkena dampak. Kini dia adalah seorang yang tak punya pekerjaan. Kini Bang Amirku tidak seperti dulu lagi, wajahnya telah menjadi lebih tua dari umurnya. Cerianya sudah hilang, kini dia lebih sering marah ketimbang bercengkerama bersama anak-anakku. Atau bahkan dia malah sering menyendiri di kamar.Untuk membantu ekonomi keluarga akhirnya aku membuka warung nasi kecil-kecilan di beranda rumahku, memang tak banyak penghasilannya. Tapi untuk saat ini masih ku rasa cukup. Uang pesangon Bang Amir aku tabung. Aku tak ingin mengutak-ngatik biar itu untuk keperluan sekolah anak-anak. Sementara biaya sehari-hari warung nasiku sudah cukup membantu. Aku mencoba semaksimal mungkin tak mengeluh. Aku tahu Bang Amir pun pasti tak suka dengan keadaan ini. Oleh karena itulah dia tampak oleng. Terkadang aku melihat bahwa suamiku itu bukanlah Amir Hamzah yang dulu aku kenal, kini dia sangat rapuh. Tak ada lagi semangatnya seperti dulu. Dia malah lebih sering mengutuk diri. Sering kuingatkan dia untuk bertawakkal, menyerahkan diri pada yang kuasa, toh yang punya masalah seperti ini tentu bukan hanya dia. Masih banyak. Toh, ketika perusahaan suamiku itu bangkrut ribuan orang yang kena dampak. “Aku mau pulang..” Bang Amirku menatapku dengan pandangan kosong. “Pulang kemana Bang..” inikan rumah kita tempat kita pulang..” Tanyaku. “Jangan belaga bodoh, Aku mau pulang ke Aceh.. aku rindu orangtuaku.. kampungku.. aku rindu teman–temanku..” jawabnya ketus. “Tapi Bang..” belum aku menjawab Bang Amir sudah memotong. “Apa.. kita nggak punya uang.. begitu..?” katanya lagi dengan dingin. Aku diam. “Aku pinjam uang tabungan sekolah anak-anak. Nanti kuganti jika aku dapat pekerjaan baru..” katanya lagi. “Bang.. tapi kita sudah janji uang itu hanya akan digunakan jika keadaan terjepit” jawabku gusar. “Ini juga terjepit Fatimah.. aku mau pulang.. tapi kita sedang gak ada uang..” jawabnya lagi. “Bang ga bisa ditunda ?” tanyaku. “Nggak bisa, tadi malam aku mimpi Ibuku memanggil-manggilku, dia butuh pertolonganku..” Katanya lagi. “Abang sudah coba telpon Ibu ?” tanyaku. “Sudah Fatimah. Tapi aku ingin pulang titik. Aku ingin ke Aceh. Bila perlu ku ajak Awan dan Topan ke sana. Sudah lama kita tak ke Aceh..” katanya sambil berbalik ke arah yang lain kemudian tertidur. Aku menghela nafas panjang-panjang. Hatiku kesal. Berapa ongkos ke Aceh sana. Uang tabungan sekolah anak-anak pasti terkuras banyak. Aku bingung.
Sudah beberapa hari semenjak permintaan Bang Amir untuk pulang, hampir setiap malam dia mengigau. Ingin pulang ke Aceh. Kalau sudah begini aku sudah tak kuasa lagi. Bang Amir pasti sangat rindu keluarganya, hingga harus terbawa mimpi. Aku juga mungkin akan bertingkah sama jika keluargaku jauh di seberang sana dan sudah bertahun-tahun tak jumpa. Malam itu aku sholat malam, mohon petunjuk, jika saja kepergian Bang Amir akan membawa dampak yang baik bagi keadaannya sekarang, maka ikhlaskan hatiku untuk memberikan uang itu. “Bang.. kapan abang berencana pulang ?” tanyaku. “Secepatnya..” jawabnya pendek. “Bagaimana kalau awal tahun saja.. kan liburnya panjang jadi bisa ajak awan dan topan” tanyaku. “Aku ingin pulang minggu-minggu ini.. aku bosan di sini.. siapa tahu jika sudah di kampung nanti pikiranku yang kacau ini sedikit lega Mah..” Katanya. “Aku mengerti Bang.. berangkatlah, besok kuambilkan uang untuk ongkos dan oleh-oleh untuk Ibu dan Bapak di Aceh..” jawabku. “Terimakasih Fatimah.. aku sebetulnya malu padamu..” dia memelukku erat sekali. Itulah pelukan pertamanya semenjak dia tak lagi bekerja. “Aku boleh ajak awan dan topan ya ?” Tanyanya. ”Bukan tak boleh Bang.. mereka sedang sekolah, biar Mentari saja yang ikut dia kan masih taman kanak-kanak jadi tak apa jika tak masuk” jawabku. “Ya..terserahmu lah.. yang penting ada anakku yang ikut. Biar mereka tahu mereka itu orang Aceh, bahwa di sana ada nenek moyangnya..” Wajah Bang Amir berbinar. Aku lega.
Entah apa yang terjadi besoknya setelah ku pesan tiket untuk keberangkatan tanggal 23 Desember tiba-tiba malamnya tubuh suamiku mendadak panas. Besoknya suhu tubuhnya tak juga menurun malah kini ditambah muntah-muntah, akhirnya ku bawa suamiku ke rumah sakit karena ku lihat keadaannya semakin memburuk. Dokter mendiagnosa suamiku terkena penyakit tifus. Dia harus dirawat kurang lebih seminggu. “Fatimah, aku harus pulang.. ibuku tadi malam memanggilku..” katanya setengah mengingau. “Bang, sabar ya, abang masih sakit..” kataku . “Bang, bagaimana jika ibu dan bapak saja yang kita suruh kesini ya.. biar uang tiket itu ku kirim, Abang pasti rindu mereka kan ?” Tanyaku. Tapi Bang Amirku tak menjawab. Dan sejak itu dia tak siuman. Aku hanya menangis. Aku segera mengabari Aceh, dan meminta orangtua Bang Amir untuk datang. Uang tiket aku transfer lewat Bank. Mereka akan datang pada tanggal 26 Desember. Dokter tak juga dapat mendiagnosa penyakit suamiku, walau sudah siuman tapi keadaanya sangat lemah. Wajahnya pucat sekali. Tubuhnya semakin kurus. Terkadang jika demamnya cukup tinggi dia hanya memanggil-manggil ibunya.
Tanggal 26 Desember ku jemput kedua mertuaku dari Bandara Soekarno Hatta dan langsung menuju Rumah Sakit. Ibu Mertuaku matanya basah. “Aku tak bisa tidur semenjak kau kabari anakku sakit Fatimah..” katanya terisak. “Maaf Bu, jika merepotkan..” jawabku. “Tak apa Fatimah, sudah ku suruh Ibumu ini untuk terus berdoa, hanya itu yang bisa kami lakukan dari jauh. Tapi cucu-cucuku sehat kan ?” Ayah mertuaku menimpali. “Alhamdulillah Pak..” jawabku. Ketika sampai dirumah sakit ada yang aneh terjadi. Bang Amirku terlihat lebih sehat. Wajahnya sudah tidak pucat. Apalagi ketika melihat orangtuanya datang. Dia terlihat begitu bahagia.
Besoknya ternyata suamiku boleh pulang. Aku lega. Pastilah selama ini dia rindu orangtuanya hingga harus terbaring dirumah sakit pikirku. Belum sempat aku berbaring ditempat tidur, untuk meluruskan punggungku. Topan memanggilku. “Bunda, kemari Bunda..” Topan berteriak. Aku bergegas bangkit. “Ada apa Topan ?” tanyaku. “Bunda, di Aceh ada gempa dan tsunami, lihat..” Topan menunjuk televisi. Saat itu juga rasanya darahku habis. Dalam hatiku aku tak henti-hentinya bersyukur. Alhamdulillah suamiku tak berada di sana. Begitu pula mertuaku. Mungkin inilah mengapa Bang Amir selalu ingat orangtuanya.
Mertuaku yang sedang tidur terbangun oleh jeritan Topan. “Itu di Aceh ya ?” Ayah Mertuaku duduk lemas. Sementara Bang Amirku hanya duduk terdiam sambil memeluk Mentari. Kami semua terhanyut terbawa tayangan yang sungguh memilukan itu. Kami terisak.
Dua Minggu setelah kejadian itu Bang Amirku pergi ke Aceh, kali ini Bang Amir pergi sebagai utusan dari sebuah LSM. “Aku pamit pergi Fatimah, aku harus turut bantu mereka, do’akan aku ya..” Bang Amir pamit padaku. Kini Bang Amirku kembali bekerja, salah satu LSM memintanya menjadi penasihat pembangunan kembali Aceh. Wajahnya kembali tersenyum. Walau ada duka. Karena Bang Amir harus kehilangan seorang paman dan keponakannya. Mertuaku kini tinggal bersama kami, karena rumahnya pun hilang ditelan Tsunami.



Diambil dari Cerpen Bang Husna Amin [ husnaamin.wordpress.com ]

Label:

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda