Kamis, 26 Juli 2007

JIKA ESOK TAK PERNAH DATANG

Setiap bagun tidur dan membuka mata, yang terucap adalah kalimat syukur bahwa 4JJI masih mengizinkan diri ini kembali melihat fajat. Merasai hembusan angin pagi yang menerobos selah jendela dan menjumpai semua yang semalam terlihat sebelum mata terpejam masih seperti sedia kala, tidak ada yang berubah.

Kemudian melangkahlah dengan iringan do'a di gerbang mungil menuju arena perjuangan kehidupan. Dengan tuntunan-Nya lah diri ini tak menlangkah ke jalan yang salah, tak menjamah yang bukan hak, tak melihat yang dilarang, tak memamah yang tak halal, tak mendengar yang bathil, dan tak banyak melakukan yang sia-sia. Karena setiap waktu yang terlewati pasti akan ditagih tanggungjawabnya. Lantaran semua jalan yang dilalui akan dimintai kesaksiannya atas diri ini. Dan sebab seluruh indera ini akan diminta bicara tentang apa-apa yang pernah tercipta.

Hari ini, amsih ada lalai terbuat. Masih juga lengah sehingga khilaf tercipta. meski segunung tausyiah pernah didengar, mulut ini masih terselip berucap dusta, saringan telinga ini tetap tak mampu membendung susra-suara melenakan, dan masih saja ada perbuatan yang salah, walau itu dalam bingkai alpa. Padahal, di setiap terminal ruhiyah, sedikitnya lima kali sehari lidah ini berucap, tangan ini tertengadah, dan mata ini menitikkan butir bening, seraya memohon perlindungan dari 4JJI dijauhkan dari salah dan dosa. Tetapi.....masih juga langkah ini menuju arah yang salah.

Setiap hari menangis, setiap hari meminta ampunan, setiap hariberbuat salah. Hari ini mencipta dosa, esok sibuk bersujud, meluluhkan air mata, menyusun kalimat do'a, menganyam pinta semoga 4JJI meghapusnya dalam sekejap. Detik ini berbuat salah, terlalu lama menghapusnya, bahkan kadang lupa.Padahal, bisa saja sedetik kemudian diri ini tak lagi sempat memohon ampunan. Lupakah bahwa waktu sangat cepat berlalu. Lupakah pula bahwa menyesal di akhirat hanyalah kesiaan yang nayta...?

Bagaimana jika hari esok tak pernah datang?padahal baru saja seharian ini berenang di lautan dosa. Padahal belum sempat mengahpus noda hari ini, kemarin sepekan lalu,setahun lalu dan bertahaun-tahun yang lalu. Bagaimakah jika 4JJI tak berkenan membukakan mata kita setelah sepanjang malam terlelap? bagaimana jika perjumpaan dan cada riang bersama keluarga semalam adalah terakgir kalinya. Ketika esok harinya ruh ini melihat seluruh keluarga menangisi jasad diri yang terbujur kaku berkafan putih.

Bagaimakah jika matahari esok terbit dari barat, tak seperti biasanya dari timur..?padahal hari ini lupa menyebut nama-Nya. Padahal hari ini, belum sempat mengunjungi satu persatu keluarga, kerabat, sahabat, tetangga dan orang-orang yang pernah tersakiti oleh lidah dan tindakan kita. Sudah terlalu lama tak mencium kaki orang tua mencari keridhaannya, walau tak terhitung salah diri. Belum lagi sempat berderma, setelah derma kecil beberapa tahun lalu yang sering kita banggakan.

Dan jika memang esok tak pernah datang, sungguh celakalah diri ini. Benar-benar celaka, bila belum sempat mencuci dosa sepanjang hidup. Bila belum menyisihkan harta yang menjadi hak orang lain, bila belum sempat meminta ampun atas segala salah dan khilaf yang tercipta.

Maka, saat pagi ini 4JJI masih memperkenankan diri menikmati fajar, mulaikan hari dengan kalimat "terima kasih, Ya Roob...!"

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda