Selasa, 31 Juli 2007

Kesendirian Yang Bermakna

Kesendirian, suatu waktu di mana kita tak bisa menghindarkannya. Banyak moment di mana kita harus tinggal seorang diri, saat di kamar mandi, saat di rumah tak ada orang kecuali kita, saat berada di sebuah ruangan warnet. Saat kesendirian itu muncul, saat di mana setan dengan gencarnya menggoda kita. Karena biasanya, kita akan jauh lebih semangat beribadah ketika ada orang di sekitar kita. Apalagi jika orang yang di dekat kita adalah orang yang shalih, yang senantiasa "menularkan" kebaikan pada diri kita. Ketika pengahalang itu tak ada setan pun dengan leluasa menerobos masuk dalam hati dan pikiran kita.

Karena iman yang lemah, kita pun kerap terjebak pada bujuk rayu setan. Kita menuruti apa mau setan. Tandinya kita rajin sholat, membaca Al-Quran, tiba-tiba menjadi makhluk jalang yang bersuka cita pada kemaksiatan. "Ahhhh...tidak ada yang melihat saya melakukannya," bisik hati kita.

Saat kesendirian itulah keimanan kita sedang di uji, apakah kita benar-benar mencintai 4JJI dengan setulus hati, apakah kita hanya takut kepada-Nya ataukah ibadah yang kita lakukan selama ini hanya sandiwara dan ingin di puji oleh orang lain.

Saat sendiri, berarti kita hanya berdua-duaan dengan 4JJI. Alangkah baiknya kita gunakan kesempatan itu untuk bermunajat dan mendekatkan diri kepada 4JJI. ketika dalam keramaian kita berdzikir seratus kali. Maka saat sendirian, kita harus lebih dari itu. Uwais al-Qarny Ra pernah berkata "Aku tidak pernah melihat seseorang bisa mengenai Tuhannya,sementara dia lebih banyak bersama selain-Nya".

Suatu ketika, di malam yang dingin dan sunyi, Imam Abu Hanifah bermunajat di sebuah masjid. Di sana beliau mengahbiskan waktunya dengan shalat, dzikir dan berdo'a hingga Subuh. Tak disangka, ada orang yang melihat ibadahnya itu. Setelah mengetahui ada yang memperhatikannya, beliau berkata agar merahasiakakn perihal apa yang dilihatnya.

Seorang yang taat di kala ramai maupun sepi akan mereguk manisnya iman. Dia akan mendapatkan peningkatan kualitas iman dalam dirinya. Sesungguhnya semua ibadah yang kita lakukan untuk diri kita sendiri, bukan untuk orang lain. Ketika berlaku demikian laksana melempar kayu Hindi (bahan minyak wangi) ke tengah bara api, kemudian wanginya tercium oleh manusia. namun mereka tak tahu dari mana sumber wanginya.

Namun, ada orang yang jika kita semankin dekat dengannya, hati kita semakin hampa, keras membantu dan koto oleh maksiat. Mungkin pada mulanya, kita menganggapnya orang baik. Namun lama kelamaan katahuan belangnya, hatinya lebih busuk dari bangkai dan lebih kejam dari binatang liar. Merekalah orang-orang yang hanya taat di kala ramai, namun berbuat maksiat di saat sendiri.

Barangsiapa yang kesendiriannya bauik dan penuh makna, akan menyebarkan aroma keutamannya dan hati pun akan senantiasa mencium wewangiannya. Jagalah perilaku ANDA dalam kesendirian, karena hal itu sangat bermanfaat.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda