Sabtu, 21 Juli 2007

Berikan Aku Sepotong Surga

Kalau bisa memilih aku tak pernah mau jadi seperti sekarang ini, setiap kali keluar rumah pandangan mata tak ramah langsung menyerbuku, bisikan sinis hingga umpatan rasanya sudah puas ku dengar ditelinga. Aku rasanya tak bisa menghindar sejengkalpun dari serbuan pandangan sinis, hingga masuk ke rumah sendiripun pandangan itu jelas terlihat dari sorot dua orang pembantuku, bahkan jika aku pulang ke rumah ibupun tatapan ibu sepertinya tak lagi sesejuk dulu, di matanya kini lebih sering ku lihat air mata, dan air mata itu jelas tercurah untukku, seolah aku adalah pendosa besar yang memang patut menerima umpatan dari setiap mata yang berserumbuk denganku, aku merasa bagaikan asing disegala arah, bahkan sahabatku seakan memilah kata jika mencurahkan hatinya padaku, duniaku rasanya begitu sempit ,entah ke mana aku dapat tenang mematut diri dan melangkah tegak sehingga leherku tak perlu lagi dipijat karena pegal harus merunduk dimanapun berada, tadinya ku pikir akan mudah saja, tapi setelah ku jalani rasanya berat….dan aku hampir tak kuat…..
Untuk wanita sepertiku jelas tak harus ada kata menyesal. Jika pun itu kini ada di hatiku maka pada siapapun aku mengadu jawaban mereka pasti sama, ”sudah ku bilang dari dulu……”. Ibuku pun pasti menjawab sama dengan sahabat atau siapapun yang akan ku jadikan tempat mengadu. Jika tak ada sajadah ini yang menemani hari – hari ku, jika tak ada Allah tempatku mengadu, maka aku yakin jangankan satu minggu, satu hari pun predikat ini tak pernah mau aku sandang. Predikat yang akan dicap sebagai penghancur kedamaian orang, predikat yang sedetik pun tak pernah ku fikirkan sebelumnya bahkan dalam mimpi sekalipun. Terkadang aku sering bingung pada diriku sendiri tentang keputusan yang ku ambil tempo itu, berdasarkan nafsukah…? Atau nalar sehat dan imanku pada yang Maha Pencipta…? Hingga kini jawaban itu terkadang gamang… ku rasa keduanya… terlalu munafik jika ku pilih salah satu. Aku tak ingin hanya menyalahkan yang Maha Pencipta. Semua itu ku fikir dengan nalar dan hatiku dan disitu pun nafsuku berperan, nafsuku untuk merasakan sepotong surga dunia.
Pernikahanku dengan Faqih Malik memang tak mudah. Izin orang tuaku nyaris tak ku dapat. Mana ada seorang ayah mau menikahkan anaknya secara sirri dan jelas Faqih Malik beranak istri. Ayahku menolak jadi wali, maka pernikahanku digantikan wali hakim. Hanya ibu dan dua kakak wanitaku yang sedikit sibuk mempersiapkan sedikit hidangan, rumahku tak berhias seperti ketika kedua kakakku menikah. Bahkan nyaris sepi karena terlihat jelas ibu tak mau para tetangga tahu tentang pernikahanku. Tetapi bagaimanapun pernikahan haruslah diumumkan, maka nasi kotak dengan hidangan seadanya dipesan kakak tertuaku dari warung makan dekat rumahnya. Tak ada ucapan selamat berbahagia ketika ijab kabul selesai diucapkan, justru ledakan tangisan terdengar menyayat hati. Ibuku bahkan terlihat begitu lunglai, walaupun beliau berusaha tersenyum ke arahku. Sungkeman itu rasanya menusuk ulu hatiku, kakakku tak hantinya mengucapkan kata, ”Sing sabar….. sing sabar…..” suara itu lirih. Jika ku ingat hari itu rasanya saat itu aku telah membuat hati ibu luluh lantah, sebagai anak aku merasa sangat terpukul… ibu…
Selesai Ijab Kabul aku dan suamiku menuju rumah yang memang Mas Faqih sediakan untukku. Tak ada malam pertama seperti yang ku dengar dari bisik-bisik temanku, saat itu rasanya hatiku terbelah luluh lantah, bagaimana pun saat itu suasana batinku begitu galau. Aku merasa telah meninggalkan noda di muka ayah, ibu dan kedua kakakku. Jika bukan karena nasihat ustadzah di Mesjid, ibu jelas tak mau tahu tentang pernikahanku. “Poligami itu bukan dosa besar…… ibu tak perlu takut jika anak ibu akan jadi istri kedua, yang dosa besar itu jika berzina….”. Ustadzah itu menasehati ibuku. Ibu hanya menangis saat itu, ”Terimalah bu… mungkin ini sudah kehendak Allah…” suara Ustadzah itu seolah menohok batinku. Ibuku pulang dengan gontai saat itu. Sejak permintaan Mas Faqih untuk menikahiku pada Bapak, ibu, kedua kakakku seolah enggan menyapaku. Bapak hanya sesekali menasehatiku, ”Fikir matang-matang… kau lihat buruknya dulu jangan manisnya…. apa kata orang Via….?” Suara bapak seperti tersendat. Aku merasa dalam posisiku saat itu tak ada gunanya menerangkan yang menurutku prinsip. Malam pertamaku berlalu begitu saja, salah jika mereka menilaiku berbahagia di atas penderitaan kak Ratna, jelas akupun menderita…. mungkin sama menderitanya dengan Kak Ratna, istri tua Mas Faqih.
Suatu hari, pagi buta, suara bel terdengar nyaring, aku segera bangkit dari sajadahku. Aku baru selesai witir untuk tahajudku, aku bangkit. Ku lihat ada mobil mewah di seberang pagar rumahku. Aku kenal mobil itu, itu salah satu mobil Kak Ratna, hatiku berdegup kencang. Seorang wanita dengan jilbab putih keluar, aku segera menuju teras rumah. Pembantuku terlebih dulu membukakan pagar. Aku mengendap di rumahku sendiri. Wajah Kak Ratna sering ku pandangi karena ada di dompet Mas Faqih, tapi jika kini aku bertemu maka itu untuk yang pertama kalinya, aku kikuk pada diriku sendiri. Langkahku seolah terseret, berat sekali. ”Assalamualaikum….” suara itu meredam kesunyian pagi, ”Waalaikumussalam…” sahutku sambil tergopoh. Mataku dan Mata Kak Ratna saling bertubrukan ketika ku buka pintu rumahku. Senyum terurai dari bibirnya, aku bahkan tak sanggup membalasnya, ”Boleh aku masuk…?” suara itu begitu datar, aku hanya mengangguk. Ratna duduk di bangku yang menghadapku. Matanya jelas tertuju kearahku. ”Nama saya Ratnasari…….” suara itu begitu tenang, ”sehabis sholat malam barusan hati saya baru kuat untuk menuju kemari….. saya tak ingin lagi mendengar kata orang, Mas Faqih tak pernah mau cerita…. saya ingin kejujuran adik….” suara itu sangat matang. Aku mematung. Aku ingin sekali mengangkat leherku dan memandang wajah itu, tapi rasanya tak kuasa. ”Tolong beritahu saya…. apa rumor itu semua benar suamiku menikahimu..?”, suara itu akhirnya terdengar mengiba. Aku hanya mengangguk lemah, ”Boleh saya tahu kapan kalian menikah….?” suara itu kembali terdengar begitu datar. ”27 April….. sebulan yang lalu…” suaraku terdengar sangat lirih. Tiba – tiba ada tangan memegang bahuku, hangat rasanya. ”Namamu… Novianti… kan…. aku tak salah masuk rumah….., bukan… aku masuk rumah ko nggak permisi… maaf ya…” tangan itu seolah mencengkram bahuku. ”Maaf mengganggumu… pagi buta begini… aku harus cari waktu di mana ketiga anakku sedang terlelap…” suara itu terdengar sangat datar. ”Mulai hari ini kita bisa bekerjasama untuk saling menjaga Mas Faqih… tak usah sungkan jika ada yang harus ditanyakan…. ku rasa kita pun harus saling mengenal….” Suara itu tak terdengar sedikitpun galau. ”Mas Faqih ada di rumahku…. aku tak mau kalian sembunyi dariku….. anggap saja aku kakakmu…” suara itu menjauh. ”Oke Via… sampai ketemu ya… nanti aku bikin sedikit kenduri buat kalian…. ini kartu namaku, jika Mas Faqih sulit dihubungi, telpon aku saja….”. Ku lihat tangan itu menyimpan sebuah kartu nama di meja ruang tamuku, ”Aku takut jika anakku ada yang terbangun mencariku… aku harus pulang… maaf menganggumu…” suara itu menjauh, langkah terburu – buru terdengar. Aku mengikuti langkah itu, hingga suara itu, berlalu batang leherku tak bisa terangkat. Saat aku mengangkat leherku, kini giliran kedua pembantuku seolah menghakimiku, aku segera berlari menuju kamarku, aku menangis…….. sejadi-jadinya.
Esok paginya ingin sekali mengabari Mas Faqih tentang kedatangan Kak Ratna, tapi entah kenapa aku begitu enggan. Ini hari Kak Ratna, aku tak mau mengganggunya, apalagi sikap Kak Ratna tadi sangat sopan, tak seperti yang ku lihat di film – film. Jika istri pertama datang ke rumah istri kedua suaminya, penuh umpatan dan caci maki. Kak Ratna bersikap begitu sopan, hingga aku tak mengerti apa yang saat itu berkecamuk di hatinya. Aku sendiri meraba hati apa aku akan setenang Kak Ratna jika aku dalam posisinya……… Suara handphone mengangetkanku, Mas Faqih.. ”Via… Ratna ke rumahmu… ya…?” suara Mas Faqih terdengar berbisik, ”Iya…” jawabku. ”Kalian berkenalan… kan….” pertanyaan itu mengusik batinku. ”Kak Ratna baik-baik saja kan…?” aku balik bertanya, ”Ratna baik, kami sedang makan di restoran favorit Ratna bersama anak-anak….. nanti ku telpon lagi ya…. mau ku bawakan kau makanan…?” suara itu seolah tak merasakan kegalauanku. ”Terimakasih Mas…. aku sudah masak…” jawabku. Telpon pun ditutup. Pikiranku menerawang, mereka terdengar menerima keadaan ini dengan sangat biasa, lain denganku yang merasa sangat galau. Hariku bersama Mas Faqih adalah hari Kamis , Jum’at dan sepotong Sabtu. Maka ketika sebuah Mercy parkir di depan rumah ku sepulangku bekerja, aku yakin itu adalah Mas Faqih. Langkahku agak memburu, ada banyak pertanyaan untuknya saat itu, terutama tentang Kak Ratna. Tapi langkahku terhenti ketika ku lihat yang duduk di ruang tamuku adalah seorang wanita cantik berjilbab biru, Kak Ratna. ”Assalamualaikum…” aku masuk dengan hati yang belum tertata, kali ini ku lihat jelas wajah itu, putih bersih, berhidung mancung dengan bibir yang tipis walaupun guratan tua mulai tampak tapi untuk wanita di atas 40 tahun wajah Kak Ratna terlihat muda. ”Waalaikumussalam… maaf aku masuk…. Mas Faqih ada di kamar, aku hanya mengantar…. sekalian ingin memberitahumu, lusa Mas Faqih harus ke Amerika, tolong kau yang siapkan peralatannya ya… mungkin beliau akan langsung ke bandara dari sini, oh iya beliau suka dibikinkan serundeng, kau bisa kan buatnya…. kalau tak bisa telpon aku saja, nanti biar supir yang bawakan itu kesini…” suara itu begitu tenang. ”Aku pulang ya.. Via…. Assalamualaikum…” ada tepukan ringan di bahuku, sebelum Kak Ratna pergi, hatiku jelas semakin kacau. Aku segera menuju kamar, Mas Faqih sedang tertidup pulas, ”Mas…. Mas… tolong bangunlah…. aku mau bicara…” aku mengguncang bahunya, Mas Faqih terbangun wajahnya terlihat mengantuk, ”Mas cerita dong bagaimana komentar Kak Ratna tentang ini semua…” rajukku, “Oh itu alasannya kau bangunkan aku..” Mas Faqih membenarkan letak duduknya. ”Ratna ….. sampai sekarang 20 tahun aku menikahinya, aku tak pernah dapat menebak saat dia senang, susah. Dia sangat bisa menyimpan segalanya…. Ratna terlihat begitu datar…. terkadang aku bingung apa dia mencintaiku…?” suara Mas Faqih seolah bertanya pada dirinya sendiri. ”Semenjak menikah dengannya…. aku merasa sangat lengkap, Ratna begitu telaten terhadapku, anak-anak, rumah, tapi ada yang kurang padanya…. dia wanita tanpa keluhan… sikapnya begitu biasa bahkan aku tak bisa menebak saat dia marah, Ratna terlalu santun bagiku. Aku seperti menikahi seorang dewi…. itu kalau kau mau tahu tentang Ratna….” Mas Faqih seolah menerawang. “Berbeda denganmu yang sangat penuh ketergesaan…. Ratna begitu terencana, segalanya penuh pertimbangan, untuk urusan bisnis aku merasa Ratna lebih faham daripada aku… Ratna terlalu membuat aku merasa tak berarti……” Mas Faqih memandangku, ”Bahkan ketika ku tanya, bolehkah aku beristri lagi…? jawabannya sangat ringan…. dia bilang asalkan wanita itu solehah dan mengerti agama… dia yakin kehidupan poligami bukan neraka….” Mas Faqih menghirup nafas dalam-dalam.”Dia bahkan tak terlihat sedikitpun memperlihatkan keenganannya aku beristri lagi, kata-katanya begitu datar, raut wajahnya tak berubah…. aku merasa dia terlalu dingin…” Mas Faqih terdiam sebentar. “Di kantor dia sepertinya lebih didengar oleh karyawan…. tapi aku merasa Ratna memang berbeda, dia punya sejuta pesona yang tak dimiliki wanita manapun…. pesonanya seperti magnet…. kita tak bisa lepas darinya, dia bukan seperti wanita kebanyakan….” Mas Faqih tersenyum kearahku. Pujian – pujian Mas Faqih pada Kak Ratna seolah menyayat hatiku. “Padamu…. ku temukan pesona lain….” Suara itu terdengar lembut. ”Kalau pada diri Kak Ratna sudah Mas temukan segalanya… kenapa Mas menikahiku..?” suaraku tersekat. ”Karena Ratna takkan pernah bertanya seperti itu padaku…, poligami menurutnya bukan dosa, maka tak perlu dilarang…” Mas Faqih terdengar agak galau. ”Sudahlah…. aku tahu Ratna… kau tak perlu risau… dia wanita yang paling bisa meredam emosi….. dan mungkin karena dalam keluarganya Poligami bukan hal tabu, makanya dia biasa saja…. Ayah Ratna pun berpoligami…. sehingga baginya masalah kita ini bukan hal yang cukup besar…” Mas Faqih kembali menatapku. ”Mas… kau dan aku beruntung karena kita memiliki Kak Ratna…. dia begitu baik….” Kataku sambil memegang tangan Mas Faqih.
Menginjak lima tahun pernikahanku dengan Mas Faqih tak juga ada tanda – tanda kehamilan padaku. Segala ramuan telah kuminum, beberapa dokter spesialis kandungan telah kudatangi, hasilnya masih negatif. Rasanya dalam keadaan seperti ini ingin sekali bersikap seperti Kak Ratna. Berfikir tenang. Tapi aku selalu tak bisa. “Sudahlah… Via… tak perlu repot sekali…. kau sehat, aku sehat… mungkin Allah belum kasih…” itu jawaban Mas Faqih setiap aku mengeluh. ”Mas… tahun depan usiaku 37, mas sudah 50 aku takut… aku juga ingin seperti Kak Ratna punya anak…” rajukku. Mas Faqih biasanya cuma menjawab dengan singkat, “berdo’a Via…” semua itu ada yang mengatur. Kadang aku menjadi terlampau cemburu jika Mas Faqih membicarakan tentang ketiga anaknya dengan hasil perkawinannya dengan Kak Ratna. Aku merasa tak ada bandingannya dengan Kak Ratna, seolah dialah wanita sempurna yang dapat memberikan keturunan buat Mas Faqih. Aku merasa kecil jika harus bertanding dalam masalah ini. Aku takut… takut jika Mas Faqih meninggalkanku…
“Via…. minggu depan ketiga anakku libur semester, kami berencana menghabiskan masa liburan di Mesir…. sekalian berumroh….. kau tak keberatan kan jika 2 minggu kedepan aku tak menemanimu…? “ Mas faqih menatapku, hatiku saat itu jelas berontak, 2 minggu……? Selama itu… Kak Ratna memiliki Mas Faqih…..? tapi segera ku redam gejolak itu, aku hanya menangguk lemah. ”Aku sudah berjanji sebelum Fatimah masuk perguruan tinggi ketiganya harus berumrah…. kau mengerti kan….?” Mas Faqih menerangkan. Aku kembali mengangguk. Seingatku hari untukku kini tak lagi seperti dulu, kadang Mas Faqih hanya semalam paginya sudah kembali ke rumah Kak Ratna, katanya Fatimah sudah agak dewasa pengawasan untuk anak tertuanya itu harus agak ketat, apalagi akhir – akhir ini ada teman lelakinya yang sering menelpon, kelihatannya Mas Faqih begitu khawatir. Maka sejak itu setiap Malam minggu Mas Faqih berada di rumah Kak Ratna, bermalam hanya malam selasa di rumahku, ingin rasanya aku protes. Rasanya hakku sedikit terabaikan, tapi melihat keramahan yang selalu Kak Ratna berikan untukku rasanya aku merasa begitu egois jika harus protes.
Aku agak kaget ketika sepulang bekerja suasana rumahku sedikit ramai. Aku menerobos masuk. Ku lihat kerumunan di depan rumahku. Aku bergegas. Tak satupun dari kerumunan itu aku kenal. ”Maaf…. ini Mbak Novianti….?” Seorang lelaki berbadan tegap menghampiriku, ”Iya…. saya sendiri…” aku mengangguk, ”Saya Rahman, pengacara Bu Ratna dan Pak Faqih…. ada yang mau saya bicarakan….” Suara itu agak tertekan, ”Ada apa ya…. silahkan masuk…..” kataku sambil mempersilahkan duduk kerumunan itu. ”Maaf tapi mereka siapa ya…?” tanyaku. “Mereka pengawal Pak Faqih….” Orang bernama Rahman menjawab, aku baru tahu jika Mas Faqih punya pengawal sebanyak ini. ”Maaf saya cuma mau tahu apa benar telah terjadi pernikahan diantara Pak Faqih Malik dan anda…?” lelaki itu seperti tak percaya. “Suratnya ada bu…?” Lelaki itu sepertinya menatapku begitu tajam. “Kalau maksud Bapak surat resmi, kami tidak punya, saya dan Mas Faqih menikah secara agama, tapi secara hukum agama kami sah…” jawabku. Tiba – tiba saja para lelaki yang diperkenalkan sebagai pengawal Mas Faqih berebut pertanyaan untukku setelah itu kamera video, kamera digital dan sejenisnya sibuk mengabadikanku, aku bingung sendiri, aku segera bergegas.
Maka jika ada orang yang merasa bodoh, itulah aku, besoknya tabloid dan segala yang namanya koran memuat fotoku, dan entah apa benar aku bicara seperti itu, koran-koran itu memuat headline yang jelas membuat aku terperangah. Telpon rumah tak hentinya berdering, aku enggan ke luar rumah, kerumunan wartawan semakin banyak, aku sangat takut. Sebuah tabloid ibu kota memberitakan hal yang tak pernah aku bayangkan, “Faqih Malik serumah tanpa Nikah…”. Headline itu jelas membuat aku bingung, aku merasa tak pernah mengatakan itu, tapi jika ku lihat berita di infotainment sepertinya aku yang mengatakan itu. Aku merasa telah menghancurkan nama Mas Faqih, aku tahu sekarang ini Mas Faqih memang terjun ke dunia politik, dan masalah poligami dan sebagainya sedang begitu hangat diperbincangkan, maka Mas Faqih menjadi sasaran empuk berita tentang Poligami.
Dalam keadaan seperti ini aku bingung pada siapa untuk mengadu. Layakkah aku pulang ke rumah ibu, di sana suasana pasti lebih panas, apalagi ketika telpon ibu kemarin ku terima, terdengar sekali suaranya begitu galau, aku tahu ibu dan kedua kakakku pasti senang saja aku pulang. Tetapi jika para tetangga tahu aku di sana, rumah ibu pasti lebih ramai dari sekarang, para wartawan itu sepertinya tak hanya mengejarku, tapi juga semua orang yang dekat denganku, bahkan ibuku pun sampai tak berani keluar rumah. Suasana rumah ibu dapat ku lihat dari televisi, penuh sesak dengan wartawan yang ingin mendengar langsung mengenai aku dan Mas Faqih dari keluargaku. Aku merasa begitu menjadi anak yang sangat tidak berbakti, aku telah membuat ibu malu, apalagi berita yang beredar sudah tak lagi ku tahu hendak mengarah kemana. Aku bingung setengah mati kenapa keadaan menjadi sangat tak terkendali.
“Bu…. telpon dari Bu Ratna….” Inah pembantuku mengangetkanku. Aku bangkit dan segera menuju telpon, sejak kejadian ini, inilah telpon pertama dari Mas Faqih dan Kak Ratna. ”Ada apa ini Novi….. berita yang ku dengar rasanya tak enak ditelinga kami….?” suara Kak Ratna agak meninggi. ”Maaf Kak, aku juga kurang tahu, tapi semua berita itu mengalir tak terkendali…..” sahutku cemas. ”Mas Faqih masuk rumah sakit di Kairo….. berita itu mengangetkannya…… ini tak seperti yang dia inginkan…. harusnya kau keluar dan ceritakan cerita sebenarnya, jangan diam…., suara itu agak marah. ”Tapi Mas Faqih baik-baik saja kan….?” Tanyaku, suara kak Ratna terlihat terisak, “Berdo’alah.. Novi….” Suara itu tersekat. ”Maaf Kak…. aku juga tak mengerti kenapa beritanya jadi begini. Telpon pun ditutup. Aku bingung sekali. Aku hanya bisa menangis. Berulangkali mencoba menghubungi Mas Faqih dan keluarga di Kairo tak pernah berhasil, justru berita tentang masuknya Mas Faqih ke rumah sakit di Kairo lebih lengkap aku lihat dari televisi, semua itu membuatku semakin kacau, aku merasa jika sesuatu terjadi pada Mas Faqih maka aku lah yang paling bertanggung jawab akan semua itu. Aku menangis. Jika dulu aku fikir dengan menikahi Mas Faqih mungkin akan ada sedikit kedamaian dalam hatiku yang seringkali gundah karena tak ada tempat untuk saling berbagi, tapi justru keadaan yang ku terima tak semudah yang ku bayangkan. Sepotong surga yang ku harapkan itu rasanya jauh dari angan. Padahal Kak Ratna yang menurut berita di koran tersakiti tak pernah sekalipun menghardikku seperti yang kini dilakukan oleh setiap mata yang memandangku. Aku, kak Ratna, Mas Faqih dan anak – anaknya tak pernah merasakan apa yang dikatakan oleh koran atau pun media yang kini seolah lebih tahu tentang kehidupan kami. Mereka nenelusuk masuk ke ruang yang tak pernah ku bayangkan. Mengobrak – abrik semua rasa yang dulu ingin ku simpan rapat, kini entah kemana harus berlari pun aku tak tahu. Aku sedih membayangkan ibu yang selalu dikejar wartawan, aku sedih… adakah yang tahu bahwa aku juga manusia yang punya hati dan juga perasaan…?!!!
Selesai membaca do’a setelah sholat malamku, hatiku agak sedikit tertata, ada sedikit keyakinan menyeruak dihatiku, aku ingin mengakhiri semua ini, aku merasa telah mencoreng nama Mas Faqih. Tapi tentu saja aku tak ingin gegabah, aku ingin semua ini ku bicarakan dengan kepala dingin dan tentu saja ingin ku bicarakan bersama, Kak Ratna dan Mas Faqih.
Ibu menelponku berulang kali, mengingatkanku agar lebih bersabar, beliau tadinya bersikeras menemaniku di rumah ini, tapi aku tak mau ibu lebih jelas melihat kesedihanku, yang tiap waktu harus berurai air mata. “Via baik-baik saja kok Bu…. jangan khawatir… ibu berdo’a saja ya…” kataku. ”Ibu jaga Bapak saja…. Via….. insya Allah bisa jaga diri….. Maafkan Via Bu…” kata terakhirku itu tersekat, aku tak ingin ibu tahu bahwa aku sedang menangis. “Bu… barusan ada Pak Imam dari kantor… Bapak pulang hari ini…” Inah berbisik ke arahku dengan wajah tertunduk. Mungkin hanya mata orang – orang di dekat kami yang kini mulai bersahabat. Dulu Inah dan Sri pembantuku pun punya pandangan yang sama dengan wanita lain diluar sana, tapi kini pandangan mereka mulai meredup. Mungkin karena mereka tahu bagaimana kami membangun semua ini, kami membangun tanpa kebencian. Kak Ratna dan aku saling menopang, aku tak ingin ada istilah berbagi suami, karena bagiku Mas Faqih tak bisa terbagi. Justru kamilah yang berbagi tugas, dan semua itu kami lakukan hanya atas dasar cinta yang hakiki pada yang Maha Satu… Allah. Aku yakin bagaimana sikap Kak Ratna yang begitu lembut semua itu karena Kak Ratna pun seperti aku, di dunia ini yang hakiki hanya cinta pada yang maha mencintai… Yaitu kepada Allah SWT. Arti cinta dan mencintai mungkin sudah tak bisa lagi dianggap mudah hari ini, apakah berarti Mas Faqih tak lagi mencintai Kak Ratna karena menikahiku, jelas terlihat tidak. Bagaimana aku masih merasakan Mas Faqih begitu memperhatikan Kak Ratna, apalagi pada ketiga anaknya tak ada sedikit pun aku merasa ingin agar saat bersamaku Mas Faqih tak memikirkan mereka, karena akupun ingin saat Mas Faqih bersama mereka, Mas Faqih pun tetap memikirkanku, karena seperti kata Kak Ratna, kini dalam keluarga besar Faqih Malik. Ada aku, Novianti Kartika, istri keduanya. Susah senangnya keluarga Faqih Malik kami semua harus merasakannya. Aku yakin ada rasa perih di hati Kak Ratna karena akupun merasakannya, tapi keperihan itu tak seperih saat ini, ketika semua orang memandangku sebagai pendosa. Tapi keperihanku tak harus ku obral di media massa, begitu pula dengan kepedihan Kak Ratna. Salahkah jika keperihan itu kami anggap sebagai penambah pahala, walaupun setelah kami jalani dengan beriringnya waktu, kepedihan itu lambat laun memudar, mungkin karena aku dan Kak Ratna mengerti porsi dan tugas masing-masing, kami tak ingin membagi Mas Faqih dengan jeda waktu, kami hanya ingin beribadah dan ibadah kami salah satunya berbakti pada suami, dan keputusan Mas Faqih untuk menikah lagi bukan dosa besar yang harus dihujat dan dicemooh… tapi bagaimana pun pendapatku saat ini siapa yang hendak membela, karena predikatku adalah perusak rumah tangga, tapi rumah tangga siapa yang ku rusak ?, Mas Faqih dan Kak Ratna juga ketiga anaknya sampai saat ini masih baik-baik saja, justru merekalah yang kini membuat rumah tangga yang ku coba bangun hampir punah, karena aku merasa lebih baik mundur, karena sepotong surga yang ku harapkan itu sepertinya susah ku dapat…
Suara ketukan pintu terdengar, aku bangkit dari sajadahku. ”Bu… Bapak dan Bu Ratna menuju kemari, Pak Burhan baru saja menelpon, dari Bandara langsung kemari, katanya jam 19.00 nanti malam mau ada konferensi pers… mohon ibu bersiap…”. Sri pembantuku berbisik kepadaku, ”sabar ya bu… maafkan saya bu…”. Sri seolah menahan tangisnya, ”Terimakasih Sri… tolong dipersiapkan untuk kedatangan Bapak dan Ibu ya… tolong kalau sudah datang langsung beritahu saya…” kataku. Sri hanya mengangguk kemudian pergi. Hatiku sedikit tenang dengan kabar itu, aku berharap kabar tak sedap ini segera berakhir.
Suara mobil berdatangan menambah keriuhan di teras rumahku, itu pasti Mas Faqih dan Keluarga yang datang, aku segera bergegas menyambut mereka. Satu persatu anak buah Mas Faqih datang, kemudian anak – anak yang langsung memelukku dengan tangisnya yang pecah, kemudian datang Kak Ratna dengan wajahnya yang tetap tenang, terakhir ku lihat wajah Mas Faqih yang terlihat agak pucat. Kak Ratna membimbing kami menuju kamarku. Aku duduk bersama ketiga anak Mas Faqih dan Kak Ratna. Wajah tegang mulai terlihat dari Wajah Kak Ratna begitu pula dengan Mas Faqih. “Maafkan kami Via… jika kami tak memberi kabar kedatangan kami… semuanya tak seperti yang direncanakan…” Kak Ratna memecah hening. Aku menangis. ”Mama Via jangan menangis….” Fatimah menatapku. Aku menahan agar tak setetes pun lagi air mataku keluar. ”Ini masalah kita, kita harus pecahkan bersama…” suara Kak Ratna melemah, ”Maaf Kak… jika saya salah… tapi memang sayalah yang bersalah… saya telah menghancurkan nama baik Mas Faqih…” Kataku. Suasana hening. “Begini Via… jam 19.00 nanti kita akan konferensi pers. Pengacara Mas Faqih Pak Amirullah telah menyiapkan butir – butir pernyataan yang akan kita sampaikan nanti, mohon saat acara nanti tak ada lagi air mata yang keluar, kau harus belajar menata hati, kini kau pun istri Mas Faqih… kau tahu… dunia ini kejam untuk orang yang lemah, jika kau menangis mereka akan lebih membuatmu berdarah…” Suara Kak Ratna terdengar tegas, aku mengangguk. ”Dengar Via… tak ada yang salah dalam hal ini, apakah Mas Faqih melanggar hukum…? Tidak bukan…? dunia pandai bersilat lidah tapi kita jangan tertipu…” Kak Ratna menatapku. “Via justru kami yang ingin minta maaf, karena kau menikahi Mas Faqih maka air matamu harus keluar karena sumpah serapah orang yang tak mengerti keadaan sebenarnya…” Kak Ratna memelukku. Aku merasa begitu damai. Suara ketukan pintu terdengar, rupanya pengacara yang datang. Pak Amirullah menjelaskan setiap butir pernyataan yang akan dibacakannya pada konferensi pers nanti.
“Maaf pak boleh saya menyela…?” Aku memberanikan diri. “Semua masalah ini disebabkan oleh saya, boleh jika saya ikut mengambil keputusan…?” saat itu suaraku mulai tertata. ”Maafkan saya Mas Faqih, Kak Ratna, anak – anak, karena sayalah semua masalah ini datang, dan saya ingin mengakhirinya, saya rasa ilmu saya belum cukup jika harus menghadapi semua ini, maaf kan saya, tapi keputusan itu sudah saya fikirkan secara matang, mohon dipertimbangkan…”. Kali ini suaraku yang keluar begitu tertata. Aku tak sanggup mengangkat kepalaku. Aku tak ingin melihat raut wajah Mas Faqih, Kak Ratna dan ketiga anaknya. ”Via, jangan kalah oleh keadaan…”, Suara Kak Ratna mendekatiku. Tangannya memegang pundakku. “Maaf Kak, saya memang kalah, karena saya tidak seperti Kakak, ilmu saya masih jauh, saya masih memakai perasaan saya, maaf…”, Suaraku tersedak. ”Begini Via, kalau pun kau minta cerai, ini semua perlu proses bukan…?”, suara Kak Ratna melemah, aku mengangguk. “Paling tidak tegarlah untuk malam ini…” pinta Kak Ratna. “Maafkan saya Kak, saya mundur…” kataku dengan tangis. Suara berbisik kudengar, setelah itu terdengar suara langkah kaki meninggalkan kamarku. “Via..”, suara Mas Faqih terdengar agak tersedat. Aku tak berani mengangkat wajahku. ”Jika maumu memang bercerai, aku tak bisa menahanmu, aku memang banyak menyusahkanmu, tapi tolong difikirkan lagi…”, suara Mas Faqih terbata. Tapi entah kenapa hatiku saat itu rasanya begitu bulat. ”Maaf Mas, ini sudah final, maafkan saya Mas, maaf…”, kali ini aku berhasil menahan tangisku. “Mohon jika harus ada berkas yang ditandatangani, Mas tahu kemana harus mencari saya, saya ingin sekali pulang malam ini, saya bertahan di sini menunggu Mas pulang. Kewajiban saya menunggu Mas, kini Mas sudah pulang, maafkan saya, tapi ini terlalu berat bagi saya.. maaf….” aku tak sempat lagi mengangkat wajahku untuk melihat wajah Mas Faqih, aku langsung menuju pintu, aku ingin pergi saat itu juga.
Kak Ratna menahanku, “Via… jika ingin pergi, tak begini…, maaf, tapi kita bisa bicarakan baik-baik…” Kak Ratna membimbingku. Aku tergugu di pundaknya, damai. Kak Ratna membimbingku entah kemana, rupanya kamar kerja Mas Faqih. “Minumlah….” Kak Ratna menyodorkan segelas air mineral untukku, ku teguk hingga habis. “Sabar Via, kita adalah dua orang wanita yang saat ini harusnya berada di belakang Mas Faqih, tunjukan bahwa kita kuat di hadapan mereka, jika kau mundur, berarti kau merasa bahwa yang dikatakan mereka benar…” suara Kak Ratna lirih. “Maaf Kak, tapi ini semua sudah cukup untuk saya, saya mundur…, maaf, maafkan saya…”. Aku menangis lagi. ”Aku tak bisa memaksamu, jika itu keputusanmu, kau pasti sudah fikirkan dengan matang bukan…?”, Kak Ratna memegang pundakku. “Semoga kau lebih bahagia diluar sana Via…”, Kak Ratna memelukku. Aku tergugu dipundaknya.
Konferensi pers berlangsung tanpa aku, yang ku tahu hanya pengacara Mas Faqih saja yang hadir, dengan satu pernyataan, bahwa aku dan Mas Faqih telah resmi bercerai, untuk waktu dan tempat pengacara tidak mengatakan, karena perceraian itu memang baru saja terjadi. Mas Faqih dan Kak Ratna menghadiahiku sebuah rumah dan mobil di pinggiran kota Jakarta. Enggan betul aku menerimanya.Tapi Kak Ratna memaksaku, ”Ini dariku Via untukmu…, aku tahu kau mampu beli sendiri, tapi ini dariku bukan dari Mas Faqih, kabari aku tentang keadaanmu…”, Kak Ratna memelukku untuk terakhir kalinya, hingga akhir malam itu wajah Mas Faqih tak lagi ku lihat. Rumah dan Mobil itu ku jual. Aku memutuskan untuk mengambil kuliah S-3 ku di Belanda, aku ingin mengambil gelar doktoral, karena setelah kejadian itu di Indonesia tak ada lagi tempat bagiku untuk mengangkat kepala dengan tegak semua mata seolah menatapku sinis. Aku kembali memcari sepotong surga itu…



Diambil dari Cerpen Bang Husna Amin [ husnaamin.wordpress.com ]

Cerpen iki apik kan pren......hehehehe
ada pelajaran aqidah & ahlaq yang sangat baik.....semoga ada manfaatnya.

Label:

Sukses adalah Sebuah Pilihan


Sukses adalah dambaan setiap orang. Tidak ada satu orangpun yang menginginkan kegagalan dalah hidupnya. Untuk mencapai prestasi kesuksesan dalam hidup Anda maka terlebih dahulu Anda harus mempunyai tujuan hidup (goal setting). Tidak adanya tujuan hidup dalam diri Anda akan menyebabkan diri Anda pasif menerima apa saja yang disodorkan oleh kehidupan kepada Anda dan biasanya hidup Anda akan menjadi sangat membosankan/tidak menggairahkan.

Kebanyakan orang yang hidup tanpa tujuan akan terfokus berjalan ditempat dan menghabiskan waktunya secara membosankan tanpa pencapaian prestasi yang berarti. Mereka hanya menjadi "penonton" dari suatu kehidupan. Mereka hanya bisa melihat kesuksesan orang lain tapi sama sekali tidak pernah membayangkan untuk dirinya sendiri. Inilah yang disebut hidup tanpa tujuan/misi!, Anda harus mempunyai misi hidup di dunia ini agar hidup Anda berarti dan menggairahkan!!

Untuk mencapai sukses tentu saja tidak mudah, karena Anda juga harus menyikapi kegagalan dengan baik jika memang Anda menghadapi kegagalan. Untuk mencapai sukses kerap kali kita harus melewati kesalahan/kegagalan dalam hidup. Banyak orang ingin sukses tapi sedikit sekali yang berani untuk menghadapi kegagalan. Kalau Anda ingin sukses, Anda tidak boleh takut gagal!

Simak "Prestasi Kegagalan" seseorang dan bandingkan dengan diri Anda:

- Gagal dalam bisnis/bangkrut, 1831

- Dikalahkan dalam pemilihan legislatif, 1832

- Bisnis kembali bangkrut, 1834

- Tunangan meninggal dunia, 1835

- Nervous breakdown, 1836 - Dikalahkan dalam pemilihan legislatif, 1838

- Dikalahkan dalam pemilihan untuk U.S Congress, 1843

- Dikalahkan dalam pemilihan untuk U.S Congress, 1848

- Dikalahkan dalam pemilihan U.S Senat, 1855

- Dikalahkan dalam pemilihan untuk U.S Vice President, 1856

- Dikalahkan dalam pemilihan U.S Senat, 1858

- 1860, Abraham Lincoln, berhasil Menjadi Presiden USA!!, You cannot fail... Unless you Quit!!

Anda bayangkan selama lebih dari 25 tahun Abraham Lincoln adalah seorang "juara gagal". Jadi sebenarnya kegagalan itu tidak ada selama Anda terus berjuang, bertahan, belajar dari kesalahan dan mencari cara yang lebih baik mencapai kemenangan. Lain halnya jika Anda berhenti mencoba maka pada saat itulah Anda pantas disebut sebagai orang yang gagal alias pecundang!. Ingatlah bahwa "Winners never quit, Quitters never win !!"

Dalil untuk mencapai kesuksesan adalah :

1. Anda HARUS berani menjadi sedikit "GILA" (dalam hal yang positif).

Abraham lincoln yang gagal puluhan tahun, Thomas Alfa Edison yang gagal ribuan kali dalam uji coba lampu pijar, colombus yang mengatakan dunia ini bulat ketika orang lain mengatakan dunia ini datar, wright bersaudara yang ingin agar manusia bisa terbang, JF Kennedy yang ingin manusia bisa ke bulan dll adalah contoh-contoh manusia yang agak "gila" dan karena keuletannya yang luar biasa hebat inilah hidup mereka bermanfaat bagi banyak orang. Jadi terkadang Anda harus berani melakukan hal-hal yang berbeda dimana orang biasa tidak mau atau tidak berani melakukannya.

Seperti yang dikatakan oleh President Calvin Coolidge "nothing in the world can take the place of persistence, talent will not; nothing is more common than unsuccessful men with talent. Education will not; the world is full of educated derelects. Persistence and determinatiion alone are omnipotent"

Tidak ada yang bisa menggantikan arti penting kegigihan dan keuletan. Bakat pun tidak sebab ada sekian banyak orang gagal meski mereka berbakat . Pendidikan juga tidak bisa menggantikannya, sebab banyak orang berpendidikan tinggi tidak bisa mencapai apa-apa kecuali ijazahnya geripis dimakan jamur dan waktu.Kegigihan, keuletan dan tekat yang membara untuk mencapai tujuan hidup Anda inilah yang akan mendobrak rintangan yang Anda hadapi. jadi jika kekalahan demi kekalahan berusaha menjegal dan menjatuhkan Anda dan kesuksesan nampaknya makin mustahil maka ingatlah pernyataan diatas, bahwa "tidak ada yang bisa menggantikan kegigihan dan keuletan Anda!"

2. Kendalikan Pikiran Anda

Pikiran adalah kekuatan luar biasa yang harus Anda bisa kendalikan. Galileo bahkan pernah mengatakan "hati-hati dengan pikiran Anda". Apa yang harus kita kendalikan? pikiran negatif adalah hal yang harus bisa Anda kendalikan. Pikiran negatif memang tidak bisa kita tolak masuk ke pikiran kita, namun Anda harus melawannya dengan lebih banyak memasukan pikiran yang positif.

Anda adalah apa yang Anda pikirkan!! jika Anda pikir akan gagal, maka sebenarnya adalah Anda sudah gagal. Untuk itu sukses selalu dimulai dari pikiran Anda!. Anda harus memiliki sikap "can do attitude" yakni "aku bisa melakukan hal itu". Banyak orang yang belum apa-apa sudah mengatakan "aku tidak bisa". Memang nantinya Anda akan diuji oleh kekalahan/kegagalan tapi Anda jangan berhenti, tetap jaga pikiran Anda secara positif bahwa setelah malam yang paling gelap, fajar akan segera menyingsing, disana telah menunggu istana emas, Anda cukup hanya melewati kegagalan-kegagalan saja. Ketika tiap kali hati kecil kita gundah karena belum melihat suatu hal menjadi lebih baik maka Anda harus melakukan oto sugesti kepada pikiran Anda "I refuse to give up, i shall continue firmly, steadily, and persistently until my good appears!"

Ingatkan diri Anda secara terus menerus bahwa sukses bukan hanya milik orang yang brilian, berbakat, penuh keberuntungan dll tapi sukses luar biasa adalah milik orang yang persisten (pantang menyerah), yang terus berusaha mencari cara lebih baik dalam menemukan formula kemenangan meski berton-ton rintangan menghalangi Anda. Untuk menemukan emas, Anda harus menggali berton-ton tanah lumpur. Jangan pikirkan tanah lumpurnya tapi fokuslah pada emasnya!!

"Penemuan terbesar dalam generasi saya adalah bahwa kita dapat merubah hidup kita dengan merubah pola pikir kita" (William James)

3. Selesaikan apa yang telah Anda mulai.

Ya! Anda harus menyelesaikan apa yang telah Anda mulai rencanakan sebelumnya, jangan berhenti sebelum Anda menyelesaikannya. Fokuslah sampai tujuan Anda tercapai. Sukses dan gagal memiliki perbedaan yang tipis. Tidak ada orang yang gagal didunia ini, yang ada hanyalah orang cepat menyerah. Jika saja Thomas Alfa Edison berhenti pada percobaan yang ke 900 mungkin namanya tidak akan melegenda hingga saat ini.

Jangan repotkan pikiran Anda dengan kegagalan masa lalu apalagi sampai membuat Anda trauma. Ubah rasa tramatik Anda, ubah kegagalan Anda menjadi energi positif untuk memperbaiki diri. Ubah energi kekalahan menjadi kekuatan baru dimana Anda akan melakukan upaya yang lebih baik dan lebih hebat dari sebelumnya.

Jangan pernah menyesali diri ataupun iri hati karena Anda tidak terlahir dalam keluarga kaya, tidak dapat harta warisan berlimpah, tidak dapat suami/istri kaya, tidak dikaruniai bakat, keberuntungan dll. Untuk sukses Anda hanya perlu memiliki tujuan yang jelas, persistensi dan determinasi yang keras untuk mencapai tujuan tersebut. Hidup ini keras dan Anda juga harus keras agar hidup ini melunak kepada Anda.

Label:

Wanita Itu Juga Istri Suamiku


Menikah dengan Trihatmanto usiaku waktu itu baru 20 tahun, kuliahku di Universitas Padjajaran sastra inggris belum kelar, sedang Mas Tri begitu aku memanggil suamiku baru lulus satu tahun. Mas Tri anak seorang Jendral waktu itu, tapi waktu aku mengenal Mas Tri aku suka karena beliau mandiri. Walau pun dari keluarga jendral tapi pola hidupnya sederhana, nggak macem – macem. Jaman itu seorang Jendral di negeri ini penguasa betul, militer rasanya jadi sosok yang menakutkan, jangankan anak Jenderal, anak kopral saja biasanya sombongnya setengah mati. Tapi Mas Triku tidak. Dia santun, bahkan kami bertemu pun dikawasan mesjid Salman ITB, kadang bertemu pula jika ada pengajian minggu di Mesjid Istiqomah jalan Citarum Bandung. Jika ingat masa itu kami sering ketawa – ketawa sendiri, jaman itu aneh sekali, aku yang katanya aktivis tapi malu kalau pakai jilbab. Dulu orang pakai jilbab itu kelihatannya norak sekali, nggak kaya jaman sekarang, artis pun banyak yang berjilbab. Alhamdulillah.
Pernikahanku sungguh bagai pestanya raja dan ratu, karena Mas tri anak bungsu dari tiga saudara yang ketiganya laki – laki maka pernikahan itu diselenggarakan cukup meriah. Dua orang kakak mas Tri semuanya masuk AKABRI Cuma Mas Tri yang nyasar ke ITB begitu kata mertuaku. Mas Tri memilih hidup mandiri bekerja pada sebuah perusahaan minyak milik negara, maka tempat pertama kami singgah adalah sebuah tempat yang sangat jauh dari kota besar tempatnya di pulau Kalimantan, Pulau bunyu namanya. Kantor memberikan kami sebuah rumah dinas. Waktu itu suasananya cukup menyeramkan untukku yang sudah biasa tinggal di kota besar, belum lagi jarak menuju kota Balikpapan dari pulau itu harus menggunakan helikopter, awalnya aku takut, tapi lama-lama terbiasa. Awalnya jika ada monyet masuk rumah aku teriak tapi lama – lama aku biasa, bahkan jadi hiburan. Tugas Mas Tri sering berpindah oleh karena itulah dari 4 orang anakku semuanya tempat kelahirannya berbeda. Anakku yang pertama lahir di Balikpapan, anak kedua lahir di Prabumulih, anak ketiga lahir di Bandung waktu itu suamiku sedang tugas belajar di ITB untuk S2 nya sementara anak keempatku lahir di Cirebon. Anakku semuanya laki – laki masing-masing ku beri nama, Syahreza, Faatir, Fahrulsyah dan Hanif.
Waktu berlalu begitu cepat, seringnnya berpindah tempat membuat pergaulanku cukup luas, di samping jadi ibu rumah tangga aku ada bisnis kecil – kecilan. Biasanya di manapun suamiku di tempatkan, aku jadi penyelenggara catering. Maklum biasanya istri – istri rekan suamiku biasanya sibuk juga dengan kegiatan organisasi tempat suaminya bekerja, makanya bisnis cateringku lumayan ada hasilnya juga. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat suamiku pun akhirnya menetap di Jakarta, usianya sudah tak memungkinkan lagi kerja lapangan, dan sekarang pun jabatannya sudah lumayan. Maka anak – anak tumbuh besar di Jakarta, hidup ku mengalir seperti ibu rumah tangga kebanyakan, urus anak dan suami sambil mengontrol bisnis cateringku. Terkadang ada keributan kecil tapi tak berlangsung lama, kami sepakat sejak menikah dulu semua masalah harus dikembalikan pada sebabnya. Melanggar Qur’an atau hadist ? jika tidak itu bukan masalah serius, jadi harus segera padam sebelum berkobar.
Syahreza memilih kuliah di ITB, kehilangan satu anak untuk kuliah, rasanya ada yang kurang, biasanya tiap sarapan aku siapkan lima piring, kini cuma empat. Ada kesepian dalam hatiku, padahal sebentar lagi Faatir pasti menyusul untuk meninggalkanku, dia pun katanya ingin menuju ITB seperti Reza. Enggan rasanya melarang. Mereka kan sudah tumbuh dewasa, mereka sudah berhak menentukan jalur hidup masing-masing, tak pantas aku egois pada diriku sendiri, sebagai ibu aku hanya bertugas merawat, mendidik agar mereka menjadi orang yang berguna bagi agama dan bangsanya . Aku tak pernah memiliki mereka, anak – anak hanya titipan yang suatu hari nanti pemberi titipan itu akan menanyakan bagaimana caraku merawat titipannya. Semuanya hanya sementara.
“Fatir ikut kak Reza di Bandung ya Bu… Fatir mau ngambil jurusan Informatika seperti Kak Reza, jadikan buku – buku Kak Reza ya ke pake juga sama Fatir…” Fatir menyampaikan keinginannya. ”Terserah Kau… ibu dukung, asal kamu serius dan tidak kecewakan ibu ya…..” kataku sambil membelai rambutnya. ”Fatir pasti rindu masakan ibu, jika nanti di Bandung, wah, jadi anak kos nih kita…”, suara fatir diikuti gelak tawa adik – adiknya. Maka sesuai keinginannya Fatir di terima di ITB tapi jurusannya Arsitektur dia tidak lulus di Informatika. ”Gimana Fatir, masih mau ke Bandung…?”, tanyaku. ”Iya Bu, Arsitek juga Fatir suka koq… nggak papa kan bu…?”, Fatir meminta pendapatku. ”Ya, terserah kamu, Arsitek juga bagus ya, mungkin jangan semuanya Informatika Tir, beda – beda…”, kataku. Maka sejak itu Fatir kos berdua dengan Reza di Bandung, mereka pulang kadang sebulan sekali atau bahkan kadang dua bulan baru pulang. Aku mulai terbiasa dengan hanya dua anak di dekatku.
“Mas… nggak kerasa ya… sebentar lagi giliran Fahrul yang tinggalin kita…” kataku pada suamiku suatu hari. ”Ya, itu sudah harus terjadi Bu, mereka itukan cuma titipan, sebentar lagi lulus kuliah paling kawin…” suamiku menjawab sambil membaca koran. ”Rasanya baru kemarin ya Mas, aku melahirkan Reza di pulau Bunyu dan harus ke Balikpapan dengan Helikopter “ aku mengenang masa lalu. ”Iya, paling enak ya, waktu Fahrul lahir ya bu… kita di Bandung, Fahrul lahir di rumah sakit bagus, dokternya aja yang berpengalaman, kalau si Reza kan lahir sama bidan yang tangannya masih gemetar….” Suamiku ikut bernostalgia, kamipun bergantian bercerita tentang kenangan masing-masing anak satu persatu. “Ini baru ditinggal kuliah kita udah kesepian ya Pak, nanti kalau sudah pada menikah bagaimana..?” tanyaku. ”Nanti justru senang bu, kita punya cucu jadi rumah kita kembali ramai seperti dulu, wah kamu jadi eyang putri bu…” goda suamiku, aku tersenyum saja.
Usaha cateringku berkembang pesat.Kini aku ekspansi pada kue – kue basah. Sekarang aku punya sebuah toko di sebuah Mall, mungkin karena itu pula aku tidak begitu kesepian ketika anakku sudah mulai beranjak dewasa dan suamiku yang memang masih sering meninggalkanku untuk tugas di luar negeri. Aku punya kesibukan juga, jadi tak begitu membosankan jika hanya harus menunggu waktu mereka semua berkumpul. Kadang jika sedang berkumpul kami masih suka check-in di hotel untuk sekedar melepas penat, atau pergi ke puncak, atau kadang jauh sedikit menuju negara – negara tetangga. Hidup ini memang indah jika kita nikmati.
Fahrul memutuskan untuk kuliah di Bandung juga tapi dia memilih UNPAD katanya mau jadi pengacara makanya ambil fakultas hukum. ”Kak Reza dan Kak Fatir kan ambil tekhnik, Arul ambil hukum aja ya bu…” Fahrul meminta pertimbanganku. ”Mana yang baik menurutmu ibu setuju, ibu nggak maksa kalau kau tak suka…” kataku menjawabnya. ”Tapi Bapak bu, dia bilang Arul disuruh ambil Informatika juga kaya ka Reza atau elektro, Arul nggak mau..” Arul manja. Memang diantara ketiga anakku Arul atau Fahrul inilah yang paling manja. ”Ibu yakin Bapak nggak maksa, Bapak Cuma kasih pertimbangan, boleh kan..?” aku menjelaskan. ”Ibu bicara sama bapak ya, besokkan sudah harus Arul putuskan bu, 2 hari lagi testnya…”, Arul duduk merenggut. ”Sekarang belajar yang baik, berdo’a, nanti Allah kasih petunjuk…” aku menatapnya. Arul mengangguk.
“Pak… kau suruh Arul masuk ITB juga…?” tanyaku setelah Mas Tri selesai makan malam. ”Bukan nyuruh Bu, tapi kasih masukan, setahuku anak laki kan sukanya tekhnik” jawab Mas Tri sambil duduk di sofa. ”Nggak semua dong Pa, lho adikku si Rahmadi kan kuliah di ekonomi…” jawabku. ”Maksudku sih supaya kita ITB semua Bu…” Mas Tri tersenyum. ”Bapak… jangan maksa – maksa dong, nanti malah sekolahnya nggak beres bagaimana, terserah Arul aja, dia mau ngambil hukum, nggak papa kan..? kataku sambil duduk disampingnya. ”Ya, kalau itu keputusan dia ya sudah, ini kan cuma sebaiknya, wong kakaknya semua ITB koq…” Mas Tri membela diri. ”Jangan menyamakan Pak, Arul kan beda…” kataku. ”Entahlah Bu… aku sih koq pengennya semuanya masuk ITB…. aku salah ya…?” Mas Tri memandangku. Aku hanya mengeryit, biasanya jika pandangan itu sudah keluar Mas Tri nggak mau di bantah. Aku menyerah dulu.
Ternyata Fahrul sama sekali tidak diterima diperguruan tinggi negeri, Mas Tri marah besar. Fahrul jadi bulan – bulanan. Aku ingin menangis melihatnya, Fahrul hanya diam, down kelihatannya anak itu, apalagi Mas Tri selalu membandingkannya dengan Reza dan Fatir. Membuat Fahrul semakin tak percaya diri. Mas Tri enggan menyuruh Fahrul masuk universitas swasta, tahun depan Fahrul harus masuk, sekarang Fahrul ikut bimbingan belajar intensif, dan harus masuk ITB.
“Pak… bapak keterlaluan… Fahrul kan anak kita, koq Bapak begitu. Bapak inget nggak dulu Eyang Kakung nyuruh bapak masuk AKABRI bapak malah masuk ITB, Eyang Kakung marah tapi setelah itukan tidak, bapak koq jadi lebih otoriter, coba kalau kemarin Fahrul milih UNPAD dia kan sudah kuliah Pak…” aku marah besar. Mas Tri diam. Dia memilih pergi. Entahlah tidak diterimanya Fahrul di ITB sepertinya membuat Mas Tri malu pada rekan – rekannya yang katanya semua anaknya keterima. “Aku ngalah…..” Mas Tri tersekat, ”Maksud bapak…?’ aku memandang, ”Aku ingat kesepakatan kita waktu kawin dulu, kalau masalah itu tidak bertentangan dengan Qur’an dan Hadits jangan jadi masalah besar, kemarin aku khilaf, suruh Fahrul pilih universitas swasta yang bagus… aku terima…. maafkan aku bu…” Mas Tri terduduk dalam sajadahnya. Aku mencium tangannya, kejadian itu tepatnya habis sholat isya. Aku segera menuju kamar Fahrul dan menceritakan semuanya, Fahrul bahagia sekali, dia memutuskan masuk Universitas Pancasila. Dengan begitu dia tak jauh dariku. Aku setuju saja.
Hari itu aku sedang sibuk di salah satu toko ku di sebuah Mall, ketika telpon tak kukenal masuk ke Handphoneku. ”Halo… darimana..” tanyaku, ”Ini RSPP bu, baru saja Pak Trihatmanto masuk UGD diantar supirnya setelah bermain golf, ibu bisa langsung kemari…” jawaban itu membuat handphone ku jatuh. Salah seorang pegawaiku mengambilnya, dan kembali menanyakan apa yang terjadi. Diantar beberapa orang pegawai dan supir aku menuju rumah sakit, seorang pegawaiku mengabari semua anak-aanakku. Aku diam. Aku tak bisa berfikir hanya berdo’a. Aku masuk rumah sakit dengan guntai aku merasa sesuatu yang buruk terjadi. Ternyata benar disitu sudah ada Fahrul dia memelukku, dan mengabarkan hal yang tak pernah ku duga. “Bapak… sudah meninggal bu… sabar ya…”, Fahrul memelukku erat sekali. Air mataku tak sanggup keluar, aku duduk terhempas di kursi tamu rumah sakit, rasanya tadi malam kami masih bermesraan, tertawa…. kini… semuanya sudah berlalu. Dipapah Fahrul aku masuk menemui suamiku yang sudah terbujur kaku. Aku menatapnya dan kemudian merangkulnya… untuk terakhir kalinya. ”Bapak…”, aku akhirnya menangis. Suasana duka semakin terasa ketika Hanif datang dengan pakaian putih abu – abu, dia dipapah Rahmadi adikku, kemudian satu persatu anakku datang, kemudian siang itu juga kami membawa jenazah suamiku menuju rumah untuk segera dishalatkan dan dimandikan, karena selesai belum terlalu sore kami memutuskan untuk segera menguburkannya. Mas Tri dikubur di pemakaman keluarganya, di daerah depok, disitu keluarga Subrata, ayah mas Tri punya sebidang tanah yang memang diperuntukkan untuk pemakaman.
Aku masih merenung malam itu, ketika seorang pembantuku mengetuk pintu,”Maaf bu… ada tamu…” Inah suaranya lembut sekali, ”siapa…?” tanyaku. ”Kalau mau pengajian langsung aja ke ruang tamu seperti yang lain, ibu masih mau sendiri..” jawabku, ”Ini penting katanya bu… dia mau bertemu ibu langsung…” Inah menjawabku. ”Tolong ketemu Reza dulu Nah… ibu nggak bisa terima tamu..” jawabku, Inah menutup pintu lalu pergi. Suara orang ta’ziah di luar ramai sekali mereka bergantian membaca ayat suci al Qur’an. Sesekali ada tamu yang masuk untuk bersalaman, aku dikamar ini ditemani Hanif anak bungsu ku yang juga sedang membaca alqur’an tapi suaranya dipelankan, kelihatannya dia menahan tangis.
Seminggu sudah suamiku dimakamkan, sedikit demi sedikit tamu mulai berkurang, aku pun mulai berani keluar kamar dan berpapasan dengan orang, ketika suatu saat aku sedang duduk di taman belakang rumahku, inah memberitahuku, ”Bu… tamu yang waktu itu datang lagi… penting katanya…” Inah membisik. ”Ibu… sehatkan…?” Inah menatapku. ”Suruh masuk aja, temui aku disini…” suaraku agak pelan. Inah pun beranjak. Tak lama kemudian seorang wanita kira-kira berumur 35 tahunan masuk. Ada seorang anak di sampingnya, kira – kira umur anak itu 7 tahunan. Wanita itu menyembunyikan wajahnya. Dia tertunduk. ”Siapa ya…?” tanyaku, aku setengah kaget ketika wajahnya diangkat, setahuku ketika di rumah sakit, wanita itu sudah ada, sepertinya dia bukan wanita asia. Matanya biru namun rambutnya tak terlihat karena tertutup jilbab, kulitnya pun terlihat berbeda dan kemudian ketika suamiku dimakamkan dia pun turut serta bahkan dia sempat memelukku kemudian mengucapkan belasungkawa. ”Maaf… siapa ..?” aku mengulang kali ini dalam bahasa inggris. Wanita itu tersenyum, dia membenarkan letak jilbabnya. ”Silahkan duduk…” kataku, wanita itupun duduk tepat didepanku. ”Maaf jika ini tak seperti yang ibu bayangkan, Pierre tolong main diluar dulu ya…” wanita itu menyuruh anaknya pergi, rupanya dia mahir berbahasa indonesia, anak itu mencium tanganku lalu pergi, di depan rumahku memang ada semacam taman bermain kecil, sepertinya dia menuju kesana. ”Inah, tolong temani ya..” kataku, mereka berdua menuju ke sana.Wanita itu tiba – tiba menangis, kemudian dia mengambil sesuatu dari tasnya, sepertinya sebuah foto, kkemudian dia menyerahkan kepadaku. Aku kaget setengah mati, ”Astagfirullah…” aku melihat foto itu dan di situ ada foto Mas tri dan wanita itu sepertinya dalam suasana pernikahan, kemudian surat yang ditandatangani oleh mas Tri, sebagai mempelai laki – laki, Aurora mempelai wanita dan dua orang saksi masing-masing Permana dan Dinar. ”Maaf, sekali lagi maaf… saya tidak bermaksud membuka luka ibu, saya tahu ibu sedang berduka, tapi saya juga butuh agar ibu tahu, saya bingung kapan memberitahukan ibu, tapi… mungkin sekarang waktunya…” suaranya rendah sekali. Aku diam. Ada ketidakpercayaanku padanya. ”Anak itu namanya Pierre Muhammad Syahreza Trihatmanto, sama kan dengan nama anak ibu yang pertama, Mas Tri yang memberikan nama itu“, suara wanita itu agak menguat. ”Saya tak minta apa-apa bu… saya hanya ingin ibu tahu… kalau ibu tak percaya, tanya Pak Sumardi anak buah bapak, waktu kami menikah dia ada…” suaranya kini datar. Aku menatapnya dalam – dalam, ”Kau tahu waktu menikah dengan suamiku bahwa dia beristri…?”, akhirnya suaraku keluar. ”Mas Tri cerita semua pada saya bu…” suara itu lemah sekali, ”Lalu kenapa kamu mau menikah dengan lelaki yang sudah beristri….?” Tanyaku dengan tangis tertahan. ”Maafkan saya bu, saat itu semuanya tak seperti yang ibu bayangkan… kami menikah bukan karena bapak tak setia pada ibu, tapi karena keadaan…” suaranya tersekat. ”Kalian menikah dimana…?” tanyaku. ”Seperti tercantum di surat itu bu, kami menikah di Washington DC. Saat itu Bapak ada tugas belajar selama 3 tahun disana…” suaranya tersekat. Aku ingat sekarang, 7 atau 8 tahun yang lalu mas Tri pernah tinggal di Washington kurang lebih 3 tahunan, waktu itu aku tidak bisa menemani, karena waktu itu ibuku sakit keras, karena ibu hanya mempunyai dua anak Rahmadi adikku dan aku, maka aku sebagai kakak tertua harus lebih memperhatikannya, ibu meninggal setahun setelah sekolah Mas Tri selesai. Aku diam. ”Maaf bu…” suara wanita itu membuyarkanku. ”Kau juga di sana waktu itu… kau..” suaraku dipotongnya. ”Saya pun sama dengan bapak berada di sana dalam tugas belajar, kami ketemu saat ada jamuan di kedutaan pada waktu 17 agustus, lalu hubungan kami berlanjut, karena bapak takut jika hubungan kami yang semakin akrab itu justru jadi tak terkendali, kami sepakat menikah… kemudian disaksikan oleh para relasi kami menikah di apartemen milik saya, maafkan saya bu, saya yang salah…” wanita itu terdiam. ”Setelah di Indonesia hubungan kalian berlanjut…?” tanyaku. ”Sebetulnya tidak juga, karena waktu itu sebetulnya saya minta mas Tri memilih antara saya atau ibu, tapi mas Tri rupanya lebih memilih ibu, saya mundur…”wanita itu tertunduk. ”Tapi sebulan yang lalu Pierre sakit, dia ingin ketemu bapaknya, makanya saya datang kemari lalu saya menemui bapak di kantor, Pierre senang sekali, tapi sejak itu Pierre semakin manja dan dia ingin terus ketemu bapaknya, hingga kemarin sebelum bapak meninggal kami sedang main golf bersama, tiba – tiba bapak pingsan setelah itu…” dia menangis. Hatiku semakin tertohok, ternyata sesaat sebelum meninggalnya Mas Tri ada bersama wanita selain aku. ”Bu, maaf tapi yang membuat saya datang kesini adalah satu hal, Pierre akan sekolah dia butuh akte kelahiran, saya mohon ibu ikhlas nama Trihatmanto ada dibelakang nama Pierre anak saya…” suaranya matang. Aku tak menjawab. Aku bangkit dan masuk kamar.
Aku tak tahu apa sikap yang harus kuambil, hatiku sakit rasanya ternyata selama ini Mas Tri punya rahasia besar yang disembunyikannya rapat-rapat. Dan aku sama sekali tak mencium sedikitpun kejadian itu. Ingatanku menerawang pada peristiwa saat Mas Tri baru pulang dari Amerika. ”Bu, setelah beranak empat kamu tetap sayangkan sama aku..?” Mas Tri memandangku. ”Ah bapak, kaya anak muda aja pertanyaannya..?” sergahku, ”Aku tanya boleh dong…” Mas Tri tersenyum, ”Pak, hati seorang ibu itu elastis, ada empat anak yang pada keempatnya pun cintanya seratus persen, pada suami juga seratus persen jadi hati ibu itu isinya mungkin bisa seribu persen…” jawabku. ”Kalau bapak bagaimana..?” aku balik bertanya, ”Ya sama, aku cuma ingin kau yakin jika suatu hari kau ragu kalau aku tak lagi peduli padamu, maka tanyakan pada hatimu sendiri, karena hati itu punya 1000 persen rasa sayang, hadirnya anak – anak tak membuatmu menjadikan tak lagi sayang aku, aku juga sebaliknya…” mas Tri tersenyum. Waktu itu aku tak mengerti maksudnya, mungkin hari inilah aku tahu mengapa saat itu mas Tri menanyakan hal itu padaku. Aku ambil air wudhu lalu sholat. Aku belum mengambil keputusan, apakah masalah ini akan ku ceritakan pada anak – anak atau tidak, masih ku fikirkan dalam-dalam. Esoknya aku menghubungi Sumardi. Bagaimana pun aku harus me-ricek berita ini. Sumardi datang agak sore, sengaja ku suruh Hanif tak mendengarkan pembicaraan kami. ”Sehat bu…”, Sumardi memberikan salam hormat padaku, dia duduk agak jauh dariku. ”Maaf bu, agak kaget juga, ibu menyuruh saya datang kemari…”, Sumardi menunduk. ”Saya pikir Pak Mardi sudah tahu apa yang akan saya tanyakan…”, aku menyerahkan sebuah foto dan surat kepadanya. Raut wajah Sumardi berubah. Dia menarik nafas dalam – dalam. ”Mohon maaf bu, tapi sebaiknya tidak saya ungkit lagi, toh Pak Tri sudah Almarhum…”, Sumardi terkesiap. ”Tak apa pak Mardi saya hanya ingin tahu kejelasannya, siapa wanita ini dan bagaimana keadaannya, justru karena Bapak sudah Almarhum maka saya tanya Pak Mardi” sergahku. Pak Mardi menghirup nafas lagi. ”Kejadiannya sudah lama bu, waktu itu kita lagi tugas belajar di Amerika, waktu itu istri saya ikut, tapi ibu tidak, mungkin Bapak kesepian, kemudian beliau berkenalan dengan seorang mahasiswi asal Prancis yang sedang belajar di Amerika. Tapi dia sekolah di sana atas bea siswa sebuah perusahaan penerbangan Indonesia waktu itu, namanya Aurora. Gadis itu baik, dia mualaf. Awalnya bapak hanya sebagai salah seorang narasumbernya mengenai islam, tapi lama – lama kemudian Bapak meminta pertimbangan saya untuk menikahinya, waktu itu saya bingung, akhirnya kejadian itu berlangsung. Bapak menikahi Aurora.” Sumardi tertunduk. ”Bapak mendukungnya waktu itu..?” tanyaku. ”Bu, tolonglah Pak Tri itu atasan saya, saya sungkan bu…” Pak Mardi diam. ”Bu, ini mungkin khilafnya Almarhum tolong dimaafkan…” kata Pak Mardi lemah. ”Sudahlah Pak Mardi, saya cuma mau tanya, apa ini benar atau tidak, saya kan tidak bisa menerima sebuah berita mentah – mentah, saya harus me-riceknya terlebih dahulu…” jawabanku matang.
Sulit sekali rasanya hati ini menerima kenyataan yang sedang berlaku. Aku ingin marah tapi untuk apa, aku mulai mereka mengapa hingga Mas Tri bisa membohongi aku hingga bertahun – tahun lamanya, hingga dia menemui ajalnya. Aku menangis. Aku mulai mereka – reka hatiku kembali. Serpihan yang hancur mulai ku tata. Aku ingin kelihatan tegar di mata anak – anak bagaimana pun juga masalah ini harus ku bicarakan bersama keempat anakku. Tapi aku tak ingin menjadikan masalah ini membuat mereka menyalahkan almarhum. Aku ingin mereka mengerti perbuatan ayahnya. Ini lebih baik dari pada berzina di luar sana, jika ini menyakiti hati kami karena berbohong, mungkin karena Almarhum memilih jika memberitahu justru hati kami lebih terkoyak. Bagaimanapun caranya, aku nanti menjelaskan masalah ini pada anakku, aku ingin agar mereka tak memandang masalah ini sebagai hal yang tabu. Setelah berkali – kali aku tahajud, hatiku mulai luluh dan mengerti keputusan Mas Tri, dan yang terpenting kini aku harus menceritakan pada anakku bahwa ada wanita lain yang menjadi istri ayahnya dan ada adik mereka yang lahir dari wanita yang berbeda.
Selepas sholat Isya kami berkumpul di mushola keluarga, ”Ada hal penting yang ibu fikir kalian harus tahu, tapi ingat kata – kata ibu ini sebelumnya, pandang ini dari kacamata agama yang selama ini diajarkan. Jangan pandang dari sisi perasaan atau kebanyakan orang, tapi fikir dengan hati jernih dan hati yang penuh asma Allah…” aku bercerita dengan tangis tertahan. Wajah – wajah anakku terlihat serius. ”Reza, Fathir, Arul dan Hanif, ini adalah masalah keluarga yang mungkin bagi sebagian orang adalah aib tapi bagi ibu ini adalah pilihan hidup. Ayahmu telah memilih melakukan hal itu dan ibu yakin sebelum ayahmu melakukannya pasti sudah difikir matang. Dan itu tak menjadikannya almarhum ketika melakukan itu lupa pada kita” suaraku tersendat. Aku menyerahkan foto itu dan surat kawin suamiku. Keempat anakku bergerombol menatapnya. Airmuka mereka berubah drastis. ”Ingat fikir itu dengan jernih…” aku mengingatkan. Reza memisahkan diri dari ketiga adiknya. Dia memilih pojok. Reza menangis. ”Reza… kenapa..?” aku menghampirinya. ”Ibu…” Reza memelukku erat sekali, diikuti oleh ketiga adiknya, kami saling berpelukkan. Setelah mereda aku kembali bicara, ”Ibu tahu kalian kaget, sedih atau mungkin juga marah, ibu tak akan minta kalian langsung dapat menerimanya, karena ibu pun perlu beberapa waktu untuk merenungkan kejadian ini sebelum akhirnya ibu mengambil keputusan untuk memberitahu kalian, karena ibu ingin saat kalian tahu hati ibu sudah mulai mengerti alasan apa yang menjadikan ayahmu mengambil keputusan itu” Tak satupun anakku bersuara. Mereka diam, ”Satu hal ibu ingin kalian camkan… Bapak tidak melakukan dosa, mereka menikah syah… secara agama… itu yang harus kalian camkan” aku kembali mengambil foto dan surat itu, ”Tapi kenapa Bapak tidak bilang… sama kita ibu terutama ibu..?” Reza mengawali perkataanya. ”Mungkin Bapakmu fikir jika ibu tahu, hati ibu akan sakit, sehingga lebih baik merahasiakannya…” jawabku. ”Tapi Bapak bohong bu…” Arul menimpali. ”Ibu takkan membela bapakmu, dalam hal kebohongan bapakmu memang salah, tapi hal lainnya, menikah lagi itu bukan dosa…” jawabku dengan keyakinan hati. ”Bu… apa ibu tidak sakit..?” Hanif menatapku. ”Ibu tadi bilang, ibu ingin mendudukan masalah ini pada tempatnya, bukan bertanya pada perasaan…” jawabku, ”Tapi ibu sakit hatikan…” giliran Fathir yang bertanya, aku mengangguk. Mereka kelihatan begitu kesal. ”Tapi ibu tak ingin melihat anak ibu begini…”. Aku menatap mereka satu-persatu. ”Kejadian ini memang berat, tapi ibu yakin kalian renungkan fikirkan dengan jernih. Bapakmu salah karena bohong, tapi mungkin di balik itu kita bisa ambil pelajaran, bahwa seberat apapun masalah itu kembalikan pada hal yang dasar, ayahmu tidak berzinah dan itu ibu salut. Mungkin dia lebih berfikir, lebih baik kalian membencinya begitu pula ibu daripada Allah yang membencinya jika Bapak harus berzinah, kalian laki – laki seperti Bapak, ibu yakin kalian mengerti…”, kataku panjang lebar. Mereka saling bertatapan. “Sholatlah nanti malam agar hati kalian lebih terbuka…” kataku sambil bangkit dan menuju ruang tidur. Langkahku gemetar.
Besoknya Reza menghampirku, ”Maafkan Reza bu…” Reza memelukku. ”Tak ada yang perlu dimaafkan nak… berat memang, tapi ibu yakin kalian anak – anak sholeh pasti mengerti mengapa Almarhum bapak mengambil keputusan itu..” jawabku. Satu persatu anakku berdatangan. ”Bu, siapa perempuan itu…?” Hanif bertanya. ”Ibu belum begitu kenal. Kemarin dia kesini, dengan seorang anak kecil, dia adikmu…” jawabku. ”Jadi mereka punya anak…?” Fahrul lemah. ”Namanya Pierre Muhammad Syahreza… sudahlah nanti ibu cari tahu lagi keberadaan mereka, sekarang kembalilah beraktivitas… sudah terlalu lama kalian tidak sekolah…” aku menatap mereka satu persatu, mereka pun mohon pamit dan pergi. ”Bu jika ada kabar baru hubungi kami ya…” Fathir menciumku. ”Ya…” jawabku, ”Assalamualaikum…” merekapun pergi. Dalam hati aku bersyukur mereka mengerti sepenuhnya yang ku maksud. Allhamdulilah.
Aku menghubungi Pak Sumardi dan menanyakan keberadaan wanita itu, ternyata Sugeng supir pribadi suamiku pun tahu di mana wanita itu tinggal. Menurut Sugeng sejak sebulan yang lalu wanita itu tinggal disebuah Apartemen di kawasan senayan. Kamipun menuju kesana. Wanita itu agak sedikit terkejut ketika menyambut kedatanganku, kelihatan sekali dia salah tingkah. Ada foto suamiku di ruang tamunya. Apartemennya cukup asri. ”Maaf… silahkan…” suaranya tersekat. Aku duduk. ”Nama saya Liana… panggil saja Lili… orang – orang biasa memanggil saya seperti itu“ kataku sambil mengulurkan tangan. ”Oh ya… maaf kemarin kita belum berkenalan, nama saya Aurora Clijster, orang memanggil saya Aimee” jawabnya. ”Saya tahu banyak tentang ibu dari bapak, almarhum banyak cerita”, Aimee membuka perbincangan. Aku hanya tersenyum, ”Pierre mana…?” tanyaku, ”Dia sedang di bawah bersama susternya…” Aimee menjawabnya. ”Aimee… anak – anak sudah saya beritahu, mereka menerima kejadian ini dan saya fikir kalian harus bertemu…” aku langsung pada duduk permasalahannya. Aimee sedikit terperanjat. ”Sebetulnya ada yang belum saya ceritakan kemarin, masa kontrak saya di Indonesia habis dua bulan lagi, sementara sebelum meninggal Mas Tri bilang Pierre harus sekolah disini, karena jika saya pulang ke Prancis, Mas Tri takut Pierre mendapat pelajaran agama yang kurang… makanya saya menghubungi ibu…” katanya panjang lebar, ”Jadi kau akan pulang ke Prancis..?” tanyaku Aimee mengangguk lemah. Ada kelelahan di matanya, mungkin dia juga sama denganku tak bisa tidur memikirkan semua kejadian ini.
“Sebetulnya tak ada niat sedikit pun dari saya untuk menyusahkan ibu, tapi jika mendengar dari cerita almarhum tentang ibu, saya jadi berfikir keras sebaiknya saya minta pertolongan ibu untuk Pierre…” katanya setengah memohon. “Maaf… saya kurang mengerti…” jawabku. ”Pierre sudah daftar sekolah di sini untuk tahun ajaran ini dia masuk Primary. Almarhum yang mendaftar dan memilih sekolah untuk Pierre waktu itu kita tidak tahu keadaannya bakal seperti ini…”, katanya dengan lemah. Aku hanya diam tak mengerti, ”Bagaimanapun saya harus pulang dulu ke Prancis, kini saya di sini bukan kontrak kerja dengan perusahaan Indonesia lagi, tapi dengan sebuah perusahaan penerbangan Prancis…. jadi Pierre mulai sekolah bulan depan sementara bulan depan saya harus pulang…. insya Allah tidak lama…” katanya menatapku. ”Maksud Aimee… bagaimana..?” tanyaku lagi. ”Maaf bu… saya mau titip Pierre… sebentar saja, mungkin sekitar tiga bulanan, insya Allah saya pulang…” katanya memohon. Aku terkesima, tak kusangka hal ini terjadi. ”Pierre ada suster jadi ibu tak perlu khawatir, mengenai uang sekolah dan biaya hidup saya akan bekali, saya hanya butuh orang yang dapat dipercaya yang mengawasi Pierre ketika saya pergi… sekali lagi maaf…” tiba – tiba dia tersungkur di kakiku, aku mengangkatnya. ”Sudah Aimee, mungkin Pierre memang harus kenal dengan kakak – kakaknya juga…” jawabku tanda persetujuan. “Terima kasih…” Aimee merangkulku erat sekali, dia menangis. “Jadi kapan kau akan pulang ke Prancis ?” tanyaku. “Sekitar dua minggu lagi..” katanya sambil melepaskan pelukannya. ”Kalau begitu sebaiknya kami harus berkenalan dulu dengan Pierre, bawalah besok ke rumahku. Kaupun mulailah tinggal di sana, agar Pierre tak terlalu kaget jika kau pergi nanti…” jawabku. ”Baiklah Aimee besok kau ku tunggu di rumah ya…” akupun bangkit dari dudukku. Aimee mengantarku hingga ke pintu. Pikiranku menerawang jauh, ketika seorang bocah kecil menabrakku, ”maaf…” katanya dalam bahasa Prancis. Bocah itu Pierre.” Aku hanya tersenyum membalas permintaan maafnya, dia pun terus berlari bersama susternya.
Sesampainya dirumah ku ceritakan semua pada Fahrul dan Hanif yang kebetulan sedang berada di rumah. Mereka mengabari kedua kakaknya di Bandung. Fatir dan Reza baru bisa datang tiga hari yang akan datang. Esoknya aku suruh Inah masak, makanan Prancis. Aku ingin menjamu Aimee dan Pierre. Sebuah paviliun yang terletak di dekat kolam renang yang biasa di peruntukkan untuk tamu menginap, sudah disiapkan untuk tempat tinggal mereka. Mereka datang sebelum Dzuhur. Setelah bersantap siang bersama dan kedua anakku berkenalan dengan Aimee dan Pierre kami menuju mushola untuk sholat. Ada tetes embun yang mengalir di hatiku, sejuk sekali, anak – anakku memperlakukan Aimee hormat sekali, begitu pula pada Pierre mereka ramah. Tiga hari kemudian Fathir dan Reza datang, merekapun sama tak ada masalah dengan keadaan ini. “Bu, nanti pierre panggil ibu apa..?” Hanif bertanya, “biar seperti sekarang saja, panggil ibu Granny… nggak apa-apa koq” jawabku. ”Aku juga panggil Tante Aimee tante nggak apa-apa kan…?” tanya Hanif. ”Terserah saja, Aimee dan ibu tak terlalu mempersoalkan panggilan yang penting kalian mengerti keadaan kami…” jawabku, Hanif tersenyum. Aku toh tak bisa langsung memaksakan semuanya. Hari yang direncanakan pun datang, Aimee pergi menuju Prancis dan Pierre tinggal bersama kami. Kehadiran Pierre cukup membuat suasana di rumah semarak, kini ada anak kecil. Hanif pun sering pulang cepat untuk mengajak Pierre bermain, Reza dan Fathir pulang lebih sering, mereka senang mengajak Pierre berjalan – jalan. Arul sering membantu Pierre mengerjakan pekerjaan rumahnya. Pierre sudah menjadi bagian dari keluarga ini. Kami tak peduli dengan perkataan orang di sekeliling. Toh ini adalah hidup kami, dan kami menjalaninya dengan ikhlas. Toh hidup ini adalah rangkaian dari ibadah.



Diambil dari Cerpen Bang Husna Amin [ husnaamin.wordpress.com ]
Keikhlasan menerima kenyataan karenaNYA ternyata indah yah...
memandang dan berfikir dalam rel positif thingking....
menjadikan hati tetep adem ayem
Tapi.....
bukan berarti kaum pria bisa poligami seenaknya lhooo...hehehehe

Label:

Aku Ingin Pulang


Aku Ingin Pulang

Badannya tinggi, rambutnya ikal, kulitnya hitam. Namanya Amir Hamzah. Itulah suamiku. Kami bertemu ketika kami sedang sama-sama kuliah di Bandung. Bang Amir begitu aku menyapanya adalah seniorku. Dia dua tahun diatasku. Setelah tamat kuliah Bang Amir mendapat pekerjaan di ibukota. Dan setelah aku lulus, Bang Amir pun melamarku setelah itupun aku tinggal bersamanya. Aku pun memilih untuk menjadi seorang ibu rumah tangga. Tak lama setelah itu aku pun mengandung dua anak kembarku yang kami beri nama Awan dan Topan. Dua orang anak laki-laki yang sangat lucu. Maka sejak itu kesibukanku semakin banyak dengan hadirnya anak kembarku. Waktuku lebih banyak kuhabiskan dengan anak-anakku. Kehidupan kami saat itu memang sangat bahagia, ditambah lagi dengan kehadiran Mentari anak perempuan kami.
Anak-anakku pun tumbuh menjadi tiga anak manis yang riang. Aku menjadi seorang istri yang sangat menikmati kehidupan ibu rumah tangga. Sementara Bang Amirku pun mulai menapaki kariernya. Namun seperti juga sebuah roda. Kehidupan terus berputar. Perusahaan tempat suamiku bekerja gulung tikar. Bang Amirku terkena dampak. Kini dia adalah seorang yang tak punya pekerjaan. Kini Bang Amirku tidak seperti dulu lagi, wajahnya telah menjadi lebih tua dari umurnya. Cerianya sudah hilang, kini dia lebih sering marah ketimbang bercengkerama bersama anak-anakku. Atau bahkan dia malah sering menyendiri di kamar.Untuk membantu ekonomi keluarga akhirnya aku membuka warung nasi kecil-kecilan di beranda rumahku, memang tak banyak penghasilannya. Tapi untuk saat ini masih ku rasa cukup. Uang pesangon Bang Amir aku tabung. Aku tak ingin mengutak-ngatik biar itu untuk keperluan sekolah anak-anak. Sementara biaya sehari-hari warung nasiku sudah cukup membantu. Aku mencoba semaksimal mungkin tak mengeluh. Aku tahu Bang Amir pun pasti tak suka dengan keadaan ini. Oleh karena itulah dia tampak oleng. Terkadang aku melihat bahwa suamiku itu bukanlah Amir Hamzah yang dulu aku kenal, kini dia sangat rapuh. Tak ada lagi semangatnya seperti dulu. Dia malah lebih sering mengutuk diri. Sering kuingatkan dia untuk bertawakkal, menyerahkan diri pada yang kuasa, toh yang punya masalah seperti ini tentu bukan hanya dia. Masih banyak. Toh, ketika perusahaan suamiku itu bangkrut ribuan orang yang kena dampak. “Aku mau pulang..” Bang Amirku menatapku dengan pandangan kosong. “Pulang kemana Bang..” inikan rumah kita tempat kita pulang..” Tanyaku. “Jangan belaga bodoh, Aku mau pulang ke Aceh.. aku rindu orangtuaku.. kampungku.. aku rindu teman–temanku..” jawabnya ketus. “Tapi Bang..” belum aku menjawab Bang Amir sudah memotong. “Apa.. kita nggak punya uang.. begitu..?” katanya lagi dengan dingin. Aku diam. “Aku pinjam uang tabungan sekolah anak-anak. Nanti kuganti jika aku dapat pekerjaan baru..” katanya lagi. “Bang.. tapi kita sudah janji uang itu hanya akan digunakan jika keadaan terjepit” jawabku gusar. “Ini juga terjepit Fatimah.. aku mau pulang.. tapi kita sedang gak ada uang..” jawabnya lagi. “Bang ga bisa ditunda ?” tanyaku. “Nggak bisa, tadi malam aku mimpi Ibuku memanggil-manggilku, dia butuh pertolonganku..” Katanya lagi. “Abang sudah coba telpon Ibu ?” tanyaku. “Sudah Fatimah. Tapi aku ingin pulang titik. Aku ingin ke Aceh. Bila perlu ku ajak Awan dan Topan ke sana. Sudah lama kita tak ke Aceh..” katanya sambil berbalik ke arah yang lain kemudian tertidur. Aku menghela nafas panjang-panjang. Hatiku kesal. Berapa ongkos ke Aceh sana. Uang tabungan sekolah anak-anak pasti terkuras banyak. Aku bingung.
Sudah beberapa hari semenjak permintaan Bang Amir untuk pulang, hampir setiap malam dia mengigau. Ingin pulang ke Aceh. Kalau sudah begini aku sudah tak kuasa lagi. Bang Amir pasti sangat rindu keluarganya, hingga harus terbawa mimpi. Aku juga mungkin akan bertingkah sama jika keluargaku jauh di seberang sana dan sudah bertahun-tahun tak jumpa. Malam itu aku sholat malam, mohon petunjuk, jika saja kepergian Bang Amir akan membawa dampak yang baik bagi keadaannya sekarang, maka ikhlaskan hatiku untuk memberikan uang itu. “Bang.. kapan abang berencana pulang ?” tanyaku. “Secepatnya..” jawabnya pendek. “Bagaimana kalau awal tahun saja.. kan liburnya panjang jadi bisa ajak awan dan topan” tanyaku. “Aku ingin pulang minggu-minggu ini.. aku bosan di sini.. siapa tahu jika sudah di kampung nanti pikiranku yang kacau ini sedikit lega Mah..” Katanya. “Aku mengerti Bang.. berangkatlah, besok kuambilkan uang untuk ongkos dan oleh-oleh untuk Ibu dan Bapak di Aceh..” jawabku. “Terimakasih Fatimah.. aku sebetulnya malu padamu..” dia memelukku erat sekali. Itulah pelukan pertamanya semenjak dia tak lagi bekerja. “Aku boleh ajak awan dan topan ya ?” Tanyanya. ”Bukan tak boleh Bang.. mereka sedang sekolah, biar Mentari saja yang ikut dia kan masih taman kanak-kanak jadi tak apa jika tak masuk” jawabku. “Ya..terserahmu lah.. yang penting ada anakku yang ikut. Biar mereka tahu mereka itu orang Aceh, bahwa di sana ada nenek moyangnya..” Wajah Bang Amir berbinar. Aku lega.
Entah apa yang terjadi besoknya setelah ku pesan tiket untuk keberangkatan tanggal 23 Desember tiba-tiba malamnya tubuh suamiku mendadak panas. Besoknya suhu tubuhnya tak juga menurun malah kini ditambah muntah-muntah, akhirnya ku bawa suamiku ke rumah sakit karena ku lihat keadaannya semakin memburuk. Dokter mendiagnosa suamiku terkena penyakit tifus. Dia harus dirawat kurang lebih seminggu. “Fatimah, aku harus pulang.. ibuku tadi malam memanggilku..” katanya setengah mengingau. “Bang, sabar ya, abang masih sakit..” kataku . “Bang, bagaimana jika ibu dan bapak saja yang kita suruh kesini ya.. biar uang tiket itu ku kirim, Abang pasti rindu mereka kan ?” Tanyaku. Tapi Bang Amirku tak menjawab. Dan sejak itu dia tak siuman. Aku hanya menangis. Aku segera mengabari Aceh, dan meminta orangtua Bang Amir untuk datang. Uang tiket aku transfer lewat Bank. Mereka akan datang pada tanggal 26 Desember. Dokter tak juga dapat mendiagnosa penyakit suamiku, walau sudah siuman tapi keadaanya sangat lemah. Wajahnya pucat sekali. Tubuhnya semakin kurus. Terkadang jika demamnya cukup tinggi dia hanya memanggil-manggil ibunya.
Tanggal 26 Desember ku jemput kedua mertuaku dari Bandara Soekarno Hatta dan langsung menuju Rumah Sakit. Ibu Mertuaku matanya basah. “Aku tak bisa tidur semenjak kau kabari anakku sakit Fatimah..” katanya terisak. “Maaf Bu, jika merepotkan..” jawabku. “Tak apa Fatimah, sudah ku suruh Ibumu ini untuk terus berdoa, hanya itu yang bisa kami lakukan dari jauh. Tapi cucu-cucuku sehat kan ?” Ayah mertuaku menimpali. “Alhamdulillah Pak..” jawabku. Ketika sampai dirumah sakit ada yang aneh terjadi. Bang Amirku terlihat lebih sehat. Wajahnya sudah tidak pucat. Apalagi ketika melihat orangtuanya datang. Dia terlihat begitu bahagia.
Besoknya ternyata suamiku boleh pulang. Aku lega. Pastilah selama ini dia rindu orangtuanya hingga harus terbaring dirumah sakit pikirku. Belum sempat aku berbaring ditempat tidur, untuk meluruskan punggungku. Topan memanggilku. “Bunda, kemari Bunda..” Topan berteriak. Aku bergegas bangkit. “Ada apa Topan ?” tanyaku. “Bunda, di Aceh ada gempa dan tsunami, lihat..” Topan menunjuk televisi. Saat itu juga rasanya darahku habis. Dalam hatiku aku tak henti-hentinya bersyukur. Alhamdulillah suamiku tak berada di sana. Begitu pula mertuaku. Mungkin inilah mengapa Bang Amir selalu ingat orangtuanya.
Mertuaku yang sedang tidur terbangun oleh jeritan Topan. “Itu di Aceh ya ?” Ayah Mertuaku duduk lemas. Sementara Bang Amirku hanya duduk terdiam sambil memeluk Mentari. Kami semua terhanyut terbawa tayangan yang sungguh memilukan itu. Kami terisak.
Dua Minggu setelah kejadian itu Bang Amirku pergi ke Aceh, kali ini Bang Amir pergi sebagai utusan dari sebuah LSM. “Aku pamit pergi Fatimah, aku harus turut bantu mereka, do’akan aku ya..” Bang Amir pamit padaku. Kini Bang Amirku kembali bekerja, salah satu LSM memintanya menjadi penasihat pembangunan kembali Aceh. Wajahnya kembali tersenyum. Walau ada duka. Karena Bang Amir harus kehilangan seorang paman dan keponakannya. Mertuaku kini tinggal bersama kami, karena rumahnya pun hilang ditelan Tsunami.



Diambil dari Cerpen Bang Husna Amin [ husnaamin.wordpress.com ]

Label:

Jumat, 20 Juli 2007

Wong Ndeso saba dunia Cyber


Wong Ndeso Wong Ndeso Wong Ndeso Wong Ndeso

Bagi kawulo kutho mungkin dunia cyber adalah hal yang sangat biasa dan mungkin hal yang menjadi "harus" karena kebutuhan untuk informasi dan komunikasi yang lebih cepet, lebih murah dan lebih mendunia. Sebaliknya bagi wong ndeso yang notabene kaum yang kurang tau apa itu gemerlap dunia cyber alias gaptek menjadikan sesuatu yang berhubungan dengan yang namanya komputer menjadi sesuatu yang mahal. Faktor biaya menjadi sesuatu yang dominan terlihat tanpa melihat fungsi dan hasil yang di dapat dari bermain di dunia cyber.
Mungkin hal ini karena sosialisasi mengenai hal itu belum merata atau bisa juga karena perkembangan teknologi belum begitu dibutuhkan karena aktifitas masih berbasis pada cara-cara yang tradisional.
Dewasa ini perkembangan yang terjadi sudah bisa di bilang menggembirakan, pergeseran teknologi dari kota besar sudah mulai nampak, seiring dengan kurikulum di sekolah dan kebutuhan dari anak2 sekolah yang menuntut adanya penyediaan sarana untuk mengerjakan tugas yang berupa komputer.
Bermunculannya warnet2 baru walaupun dengan pasar yang terbatas, bergesernya tenaga ahli yang mulai merambah sekolah dan dunia pendidikan lainya.
Hal ini menambah geliat bertambahnya keinginan untuk memenuhi kebutuhan yang berhubungan dengan cyber itu sendiri.
Adanya banyak informasi dan pengetahuan yang secuil alias sepotong2 mendorong untuk berani mencoba walau dengan banyak keterbatasan.



Jarene sinau lan terus nyobak iso ndadekke ilmu tambah akeh...hehehehe

Label:

Kamis, 19 Juli 2007

Indonesia kamu hebaaatt....

Mungkin kita sempet kecewa karena indonesia tidak melanjutkan ke babak selanjutnya setelah di kalahkan oleh Korsel 1-0, tapi yang patut di garis bawahi di sini adalah betapa rasa memiliki oleh masyarakat, rasa dukungan oleh penggila bola, telah menghilangkan perbedaan berbaur menjadi satu, meneriakkan satu kata...Indonesia..indonesia...Indonesia....padahal meraka yang biasanya saling menghujat antar suporter di club masing-masing.

Label: